Paylater perbankan dorong pertumbuhan kredit ritel di Indonesia
Di tengah daya beli rumah tangga yang masih tertekan, produk buy now pay later perbankan terus menguat sebagai sumber pembiayaan jangka pendek bagi nasabah. Per Mei 2026, baki debet paylater bank mencapai Rp 30,1 triliun dan tumbuh 37,72% secara tahunan, jauh melampaui laju kredit konsumsi perbankan.
Sorotan
- Baki debet paylater perbankan naik 37,72% yoy menjadi Rp 30,1 triliun per Mei 2026, jauh di atas pertumbuhan kredit konsumsi 5,89%.
- Allo Bank melaporkan outstanding paylater tumbuh lebih dari 20% yoy dengan 2,3 juta pengguna, didorong digitalisasi dan ekspansi transaksi harian.
- Penurunan Indeks Keyakinan Konsumen ke 120,9 pada Mei 2026 menandakan tekanan daya beli, mendorong penggunaan paylater untuk kebutuhan rutin dan meningkatkan risiko kredit.
Pertumbuhan paylater dan pendorong utamanya
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, data Otoritas Jasa Keuangan, OJK, menunjukkan baki debet paylater perbankan naik 37,72% secara tahunan menjadi Rp 30,1 triliun per Mei 2026, lebih tinggi dari pertumbuhan 37,29% pada bulan sebelumnya. Secara keseluruhan, porsi produk kredit paylater perbankan pada periode ini tercatat 0,34%.Laju itu jauh mengungguli kredit konsumsi perbankan, yang hingga Mei 2026 hanya tumbuh 5,89% secara tahunan menjadi Rp 10,61 triliun, melambat dari 6,13% pada bulan sebelumnya. Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menilai tren ini mencerminkan pergeseran perilaku pembiayaan masyarakat karena rumah tangga mencari likuiditas jangka pendek untuk mempertahankan konsumsi.
Ia menambahkan tekanan daya beli juga terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen yang pada Mei 2026 melemah menjadi 120,9 dari 123 pada bulan sebelumnya. Menurut Rizal, penurunan itu mengindikasikan optimisme masyarakat mulai turun, sehingga penggunaan paylater berpotensi makin terkait dengan kebutuhan harian, bukan semata kemudahan transaksi.
Risiko kredit dan kinerja bank
Rizal mengingatkan paylater tidak boleh bergeser fungsi menjadi utang untuk menutup kebutuhan hidup. Karena itu, bank perlu memperketat credit scoring, mengoptimalkan pemanfaatan SLIK OJK, memantau multiple borrowing lintas platform, dan menjaga kualitas kredit di tengah perlambatan ekonomi.Ia menilai pertumbuhan tinggi tanpa pengelolaan risiko yang memadai dapat meningkatkan potensi kredit bermasalah di kemudian hari. Peringatan itu muncul ketika sejumlah bank masih mencatat ekspansi kuat pada lini paylater sebagai salah satu penggerak kredit ritel digital.
Allo Bank menyatakan outstanding paylater terkini tumbuh lebih dari 20% secara tahunan, dengan jumlah pengguna menembus 2,3 juta. Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan kinerja itu didorong proses pengajuan yang sepenuhnya digital, persetujuan yang cepat, integrasi langsung dengan aplikasi, serta perluasan penggunaan paylater untuk berbagai kebutuhan transaksi harian.
Di BCA, outstanding paylater hingga kuartal I-2026 tercatat Rp 342 miliar dengan 192 ribu pengguna, atau tumbuh 9% secara tahunan. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan pertumbuhan paylater perbankan didorong kebutuhan transaksi ritel, mobilitas, dan konsumsi nasabah, termasuk untuk pemesanan tiket kereta dan pesawat, sambil menegaskan kualitas kredit tetap terjaga.
Pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan di Indonesia masih tumbuh tinggi hingga Mei 2026, dengan penyaluran mencapai Rp 13,18 triliun atau naik 53,78% secara tahunan menurut data OJK. Namun, laju pertumbuhan mulai melambat dibanding April, sementara kualitas pembiayaan menunjukkan tekanan dengan NPF gross naik menjadi 3,44% dari 2,99%, sehingga isu manajemen risiko dan ketatnya analisis kredit menjadi perhatian utama di tengah ekspansi produk paylater.
Berita Quotex Terbaru
- Forex
- Crypto