Bank KBMI 2 membidik kenaikan ke KBMI 3, modal inti menjadi faktor penentu
Sejumlah bank dalam kelompok KBMI 2 kini mulai menargetkan kenaikan status ke KBMI 3 di tengah upaya memperluas kapasitas bisnis dan menjaga pertumbuhan jangka panjang. Arah ini menempatkan penguatan modal sebagai syarat utama, namun sejumlah pelaku industri menilai langkah tersebut tetap harus diimbangi perbaikan fundamental agar tidak menekan profitabilitas.
Sorotan
- PT Bank KB Indonesia Tbk menargetkan naik ke KBMI 3, membutuhkan tambahan modal di atas Rp 7,48 triliun untuk memenuhi syarat modal inti Rp 14 triliun.
- PT Bank Mandiri Taspen menargetkan status KBMI 3 pada 2028 dengan estimasi modal inti Rp 9,3 triliun per Maret 2026, mengandalkan pertumbuhan laba tahunan Rp 1,6 triliun.
- Allo Bank Indonesia Tbk dan sejumlah bank KBMI 2 memilih fokus pada penguatan fundamental, efisiensi, serta profitabilitas di tengah likuiditas ketat dan suku bunga tinggi.
Target kenaikan status dan kebutuhan modal
KONTAN melaporkan, PT Bank KB Indonesia Tbk menargetkan dapat segera masuk ke kelompok KBMI 3, meski realisasinya masih bergantung pada tambahan modal dari pemegang saham. Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan tambahan modal menjadi syarat utama untuk memperbesar kapasitas bisnis, terutama guna mendorong pertumbuhan kredit korporasi.
Hingga kuartal I-2026, modal inti konsolidasi KB Bank mencapai Rp 7,48 triliun, sehingga perseroan masih membutuhkan tambahan modal untuk masuk ke kelompok bank dengan modal inti Rp 14 triliun hingga Rp 70 triliun. Selain memperkuat permodalan, bank ini juga masih menyelesaikan agenda transformasi yang mencakup penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penyempurnaan proses bisnis.
Kunardy mengatakan dukungan dari pemegang saham pengendali, KB Financial Group, tetap terbuka bila perseroan membutuhkan tambahan modal. Namun, induk usaha disebut masih ingin melihat lebih dulu hasil upaya perbaikan yang dijalankan manajemen.
PT Bank Mandiri Taspen juga memasang target naik kelas ke KBMI 3 pada 2028. Per Maret 2026, modal inti bank tersebut tercatat sekitar Rp 9,3 triliun, dan manajemen optimistis status KBMI 3 dapat dicapai melalui akumulasi laba ditahan tanpa aksi korporasi tambahan.
Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Panji Irawan mengatakan transformasi perseroan diarahkan untuk memperkuat layanan bagi segmen pensiunan sekaligus menopang pertumbuhan bisnis jangka panjang. Kepala Divisi Pengembangan Strategi Bisnis Bank Mandiri Taspen Agus Syaiful Anwar menambahkan, dengan asumsi laba sekitar Rp 1,6 triliun pada 2026, 2027, dan 2028, bank itu optimistis dapat memenuhi persyaratan modal inti KBMI 3 pada 2028, disertai rencana diversifikasi bisnis ke nasabah pra-pensiun.
Dampak industri dan fokus pada fundamental
Tidak semua bank KBMI 2 menjadikan kenaikan kelas sebagai prioritas dalam waktu dekat. PT Allo Bank Indonesia Tbk menyatakan belum memiliki rencana untuk mengejar status KBMI 3, dengan pertimbangan bahwa klasifikasi KBMI tidak lagi secara spesifik membatasi produk dan layanan seperti pada rezim BUKU sebelumnya.Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja Rusli mengatakan keunggulan utama bank KBMI 3 lebih banyak terkait ruang untuk penyertaan modal di lembaga keuangan luar negeri maupun kegiatan operasional lintas batas. Menurut dia, setiap penambahan modal harus mempertimbangkan tingkat pengembalian kepada pemegang saham, karena modal besar yang belum bisa dikonversi menjadi pendapatan hanya akan menekan return on equity.
Meski demikian, Ganda menilai tambahan modal tetap memberi manfaat konkret berupa kapasitas penyaluran kredit yang lebih besar dan akses pendanaan yang lebih luas. Ia juga melihat mayoritas bank di Indonesia masih akan berhati-hati berekspansi pada tahun ini di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan likuiditas, dan perlambatan pertumbuhan kredit.
Per Maret 2026, modal inti Allo Bank tercatat sekitar Rp 7,51 triliun. Dalam pandangannya, industri lebih mungkin berfokus pada penguatan kualitas aset, efisiensi, dan profitabilitas dibanding mengejar penambahan modal di luar laba ditahan.
Staf Riset Ekonomi Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Myrdal Gunarto menilai kenaikan dari KBMI 2 ke KBMI 3 memang membuka ruang bisnis yang lebih luas, termasuk untuk kredit korporasi, pembiayaan infrastruktur, produk keuangan yang lebih kompleks, dan perluasan layanan digital. Namun, ia menegaskan status itu bukan jaminan bank akan tumbuh lebih cepat jika kenaikan modal tidak diikuti kemampuan memperbesar kredit, menghimpun dana pihak ketiga, dan meningkatkan pendapatan berbasis komisi.
Menurut Myrdal, modal yang belum terserap untuk ekspansi berpotensi menganggur pada instrumen berimbal hasil rendah dan menekan net interest margin, sementara beban operasional juga bisa meningkat setelah ekspansi. Dalam kondisi suku bunga yang masih tinggi dan likuiditas ketat, ia menilai bank perlu lebih dulu memperkuat dana murah, menjaga kualitas aset, mengendalikan rasio kredit bermasalah, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempertahankan profitabilitas.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang penyesuaian tenaga kerja di perbankan di tengah transformasi digital, kami menyoroti bahwa pemangkasan karyawan skala besar yang menjadi perhatian regulator saat ini terutama terjadi di KB Bank sebagai bagian dari proses penyehatan dan peningkatan produktivitas. Kami juga mengulas bagaimana bank lain cenderung menempuh penataan organisasi, penggantian pegawai pensiun secara selektif, serta upskilling/reskilling, seiring pergeseran kebutuhan talenta ke bidang data, AI, dan cybersecurity.
Berita Banks Terbaru
- Forex
- Crypto