OJK sebut efisiensi SDM perbankan berskala besar baru terjadi di KB Bank

OJK sebut efisiensi SDM perbankan berskala besar baru terjadi di KB Bank
Efisiensi SDM di KB Bank

Transformasi digital di industri perbankan mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja, tetapi pemangkasan karyawan dalam skala besar yang menjadi perhatian regulator saat ini disebut hanya terjadi di PT Bank KB Indonesia Tbk. OJK menilai langkah itu terkait proses penyehatan bank, sementara bank lain lebih menekankan penyesuaian organisasi, penggantian pegawai pensiun secara selektif, dan pergeseran kebutuhan talenta ke fungsi digital.

Sorotan

  • KB Bank memangkas jumlah pegawai tetap dan tidak tetap sebesar 22,6% menjadi 2.265 orang per kuartal I-2026, didampingi penurunan kantor cabang pembantu dari 141 ke 120 unit.
  • OJK menegaskan hingga saat ini belum menerima laporan pemutusan hubungan kerja besar-besaran dari bank lain di tengah digitalisasi industri perbankan.
  • Transformasi digital perbankan menggeser kebutuhan SDM ke bidang data analyst, artificial intelligence, dan cybersecurity seiring tantangan profitabilitas dan peningkatan biaya investasi teknologi.

Penyesuaian tenaga kerja dan transformasi bank

KONTAN melaporkan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan pengurangan karyawan dalam skala besar yang menjadi perhatian regulator hingga kini hanya terjadi di KB Bank. Ia mengatakan langkah tersebut diperbolehkan sepanjang memenuhi ketentuan perundang-undangan, termasuk hak-hak pekerja, dan berdasarkan laporan tim pengawas OJK prosesnya telah berjalan sesuai aturan ketenagakerjaan serta disertai kompensasi bagi pegawai terdampak.

Dian juga menegaskan OJK belum menerima laporan adanya aksi pengurangan karyawan besar-besaran dari bank lain. Pernyataan itu muncul ketika industri perbankan terus menjalankan digitalisasi yang mengubah proses bisnis dan kebutuhan SDM.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, jumlah pegawai tetap dan tidak tetap KB Bank tercatat 2.265 orang, turun 662 orang atau sekitar 22,6% dari 2.927 orang pada Maret 2025. Dalam periode yang sama, jumlah kantor cabang pembantu juga menyusut menjadi 120 unit dari 141 unit.

Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan efisiensi itu merupakan bagian dari transformasi perusahaan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Ia menambahkan KB Bank tetap berkomitmen meningkatkan kualitas SDM agar transformasi perusahaan berjalan sesuai rencana.

Pergeseran kebutuhan talenta di industri

Berbeda dengan KB Bank, BTN menyatakan transformasi digital tidak menjadi alasan untuk melakukan PHK massal maupun rasionalisasi pegawai. Direktur Human Capital & Compliance BTN Eko Waluyo mengatakan perseroan tetap mengganti pegawai yang pensiun secara selektif sesuai kebutuhan organisasi dan prioritas bisnis, sambil mengedepankan upskilling dan reskilling bagi pegawai yang terdampak perubahan proses bisnis.

BTN menyebut pegawai dialihkan ke fungsi baru seperti bisnis, layanan digital, operasional, dan fungsi strategis lainnya. Jumlah pegawai BTN Group pada kuartal I-2026 bahkan meningkat sekitar 2% hingga 3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring kebutuhan reorganisasi dalam transformasi bisnis.

CIMB Niaga juga menyatakan tidak memiliki program PHK atau rasionalisasi pegawai, dan menyebut penurunan jumlah karyawan secara tahunan lebih disebabkan capacity planning serta pegawai yang memasuki masa pensiun. Hingga Maret 2026, jumlah karyawan CIMB Niaga tercatat 10.659 orang, turun dari 10.997 orang pada Maret 2025, sementara OK Bank mengatakan digitalisasi ditujukan untuk meningkatkan efisiensi proses kerja dan kualitas layanan, bukan untuk mengurangi pegawai.

Pengamat menilai tren pengurangan pegawai perbankan tidak semata-mata dipicu digitalisasi. Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufiqurahman mengatakan tekanan profitabilitas, kenaikan biaya dana, perlambatan pertumbuhan kredit, serta mahalnya investasi teknologi ikut mendorong strategi efisiensi SDM, dengan posisi teller, customer service cabang, serta fungsi administratif dan back office dinilai paling rentan berkurang dalam lima tahun ke depan.

Di sisi lain, kebutuhan tenaga kerja bergeser ke bidang data analyst, artificial intelligence, cybersecurity, cloud engineer, digital product, manajemen risiko, kepatuhan, dan relationship manager. Vice President LPPI Trioksa Siahaan menilai pengurangan pegawai mencerminkan fase baru transformasi industri perbankan menuju model bisnis yang lebih digital dan efisien, tetapi efisiensi yang terlalu agresif tanpa investasi teknologi dan peningkatan kompetensi pegawai berisiko menurunkan kualitas layanan serta menghambat ekspansi bisnis.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang ekspansi pembayaran digital BTN, kami mengulas lonjakan transaksi QRIS yang mendorong perseroan memperluas kapasitas sistem hingga Juni 2026. Kami juga menyoroti penguatan infrastruktur lewat kerja sama dengan Artajasa—mulai dari switching QRIS, integrasi layanan, penguatan platform Agen Laku Pandai, hingga eksplorasi AI—sebagai bagian dari strategi transformasi layanan BTN.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.