Kinerja perbankan Indonesia diperkirakan tetap timpang hingga kuartal III-2026

Kinerja perbankan Indonesia diperkirakan tetap timpang hingga kuartal III-2026
Kinerja bank masih timpang

Perbedaan laju pertumbuhan antara bank-bank milik negara dan bank swasta masih membentuk lanskap industri perbankan Indonesia menjelang kuartal III-2026. Hingga Mei 2026, Himbara mencatat pertumbuhan laba dan kredit yang lebih kuat, sementara sejumlah bank swasta bergerak lebih lambat di tengah tekanan kualitas aset, biaya dana, dan risiko kredit.

Sorotan

  • Ketimpangan kinerja antara Himbara dan bank swasta Indonesia diperkirakan berlanjut hingga kuartal III-2026, didorong oleh program kredit pemerintah.
  • Bank Mandiri, BRI, dan BNI mencatat pertumbuhan laba dua digit dan ekspansi kredit tinggi, sementara bank swasta seperti CIMB Niaga, Maybank Indonesia, dan Permata Bank mengalami penurunan laba per Mei 2026.
  • Kenaikan beban provisi BNI hingga 30% dan risiko kredit KDMP menghadirkan ancaman biaya likuiditas tersembunyi, sementara penurunan suku bunga acuan berpotensi menyempitkan kesenjangan pertumbuhan bank.

Proyeksi tren dan pendorong utama

KONTAN Indonesia melaporkan, ketimpangan kinerja antara Himbara dan bank swasta diperkirakan masih berlanjut setidaknya sampai kuartal III-2026, seiring program pemerintah yang masih menjadi mesin pertumbuhan kredit. Kepala Riset KISI Muhammad Wafi menilai capaian perbankan sejauh ini sudah mencerminkan hasil semester I-2026, namun ia mengingatkan bahwa kualitas kredit perlu menjadi perhatian di balik pertumbuhan yang terlihat kuat.

Bank Mandiri membukukan laba tumbuh 18,64% secara tahunan menjadi Rp 23,31 triliun, BRI naik 9,52% menjadi Rp 20,42 triliun, dan BNI meningkat 7,06% menjadi Rp 9,05 triliun. Di sisi lain, BCA hanya mencatat pertumbuhan laba 2,07% menjadi Rp 25,68 triliun.

Pada sisi kredit, BNI mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 24,55% menjadi Rp 940,88 triliun, disusul Bank Mandiri 20,56% menjadi Rp 1.578,94 triliun, dan BRI 12,23% menjadi Rp 1.427,19 triliun. BCA mencatat pertumbuhan kredit 4,85% menjadi Rp 969,09 triliun, sementara bank swasta lain juga menunjukkan tren yang lebih lemah, dengan laba CIMB Niaga turun 1,06%, Maybank Indonesia merosot 48,06%, dan Permata Bank turun 4,27% per Mei 2026.

Wafi menyoroti kenaikan beban provisi BNI hingga 30% secara tahunan sebagai sinyal bahwa ekspansi kredit yang agresif berjalan beriringan dengan pencadangan yang besar. Ia juga menilai risiko kredit ke Koperasi Desa Merah Putih, atau KDMP, belum sepenuhnya diperhitungkan, terutama karena skema revolving menuntut penyediaan likuiditas sebesar 100% dari plafon pinjaman, yang menurutnya dapat menjadi biaya likuiditas tersembunyi pada semester II-2026.

Dampak bagi bank swasta dan arah industri

Di tengah suku bunga yang masih tinggi dan potensi kenaikan kredit bermasalah pada semester II-2026, Wafi menilai pendekatan quality over growth lebih defensif dan berpotensi lebih dihargai pasar dalam jangka panjang. Ia mencontohkan BCA yang menurunkan pencadangan 13,62% secara tahunan sambil tetap menumbuhkan pendapatan komisi.

Menurut Wafi, keadaan dapat berbalik jika kredit macet KDMP mulai meningkat atau jika suku bunga acuan turun, sehingga memberi dorongan bagi bank swasta yang memiliki basis dana murah lebih besar. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga memperkirakan tren jangka pendek antarbank masih akan serupa dengan capaian saat ini, dengan perubahan arah sangat bergantung pada siklus ekonomi dan kebijakan moneter Bank Indonesia.

Nafan mengatakan kesenjangan pertumbuhan dapat mulai menyempit apabila likuiditas membaik, biaya dana menurun, dan Bank Indonesia kembali melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter. Ia menambahkan masih ada ruang bagi bank swasta untuk mendorong kredit, terutama pada segmen konsumsi, korporasi yang terkait hilirisasi, infrastruktur, pusat data, manufaktur, kesehatan, dan pembiayaan rantai pasok, sementara transformasi digital membantu menjaga efisiensi operasional dan profitabilitas.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penguatan tata kelola dan pengawasan OJK lewat Risk and Governance Summit (RGS) 2026, kami menyoroti fokus regulator pada transparansi, etika, dan kepatuhan sebagai fondasi kepercayaan investor. Forum tahunan yang dijadwalkan pada 14 Juli 2026 ini juga menjadi ruang dialog antara regulator dan pelaku industri untuk membahas praktik terbaik governance, risk, and compliance demi ketahanan sektor jasa keuangan dan pertumbuhan berkelanjutan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.