Indonesia perkuat posisi beras global di tengah krisis pupuk, FAO soroti kenaikan produksi dan stok

Indonesia perkuat posisi beras global di tengah krisis pupuk, FAO soroti kenaikan produksi dan stok
Indonesia perkuat posisi beras

Tekanan pupuk global dan gangguan iklim membuat prospek produksi pangan melemah di sejumlah negara Asia, tetapi Indonesia tetap mencatat ekspansi pada komoditas beras. Dalam proyeksi FAO untuk periode 2025/2026 dan 2026/2027, kondisi itu menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara sekaligus salah satu penopang cadangan beras dunia.

Sorotan

  • FAO memproyeksikan produksi beras Indonesia naik dari 34,0 juta ton pada 2024/2025 menjadi 38,5 juta ton pada 2025/2026, menempatkannya sebagai produsen terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat dunia.
  • Stok akhir beras Indonesia diperkirakan FAO naik dari rata-rata 5,6 juta ton menjadi 7,5 juta ton pada 2025/2026 dan 7,8 juta ton pada 2026/2027, menopang stabilitas cadangan beras dunia.
  • Pemerintah Indonesia menurunkan Harga Eceran Tertinggi pupuk subsidi sebesar 20 persen sejak 22 Oktober 2025 dan menambah volume pupuk subsidi 700 ribu ton, menjaga daya saing petani di tengah lonjakan harga pupuk global.

Proyeksi FAO dan kinerja produksi

Seperti dilaporkan Kementerian Pertanian Indonesia dengan merujuk laporan resmi FAO, Food Outlook edisi Juni 2026 menilai stabilnya harga di tingkat produsen menjadi insentif utama yang mendorong petani Indonesia tetap memprioritaskan budidaya padi di tengah tekanan global.

Dalam laporan yang dirilis di Roma pada 17 hingga 18 Juni 2026 itu, FAO memproyeksikan produksi beras Indonesia mencapai 38,5 juta ton pada 2025/2026 dan 38,6 juta ton pada 2026/2027. Angka tersebut menempatkan Indonesia di bawah India, China, dan Bangladesh secara global, namun tetap menjadi produsen terbesar di Asia Tenggara, di atas Vietnam, Thailand, Myanmar, dan Filipina.

Menteri Pertanian yang juga Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, mengatakan FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan peringkat keempat dunia. Data FAO juga menunjukkan kenaikan produksi Indonesia menjadi yang tertinggi di antara produsen utama dunia, naik dari 34,0 juta ton pada 2024/2025 menjadi 38,5 juta ton pada 2025/2026, atau bertambah 4,5 juta ton.

FAO juga memproyeksikan stok akhir beras Indonesia naik dari rata-rata 5,6 juta ton menjadi 7,5 juta ton pada 2025/2026 dan 7,8 juta ton pada 2026/2027. Penebalan stok ini disebut menjadi salah satu faktor yang menopang stabilitas cadangan beras dunia, yang pada akhir 2026/2027 diperkirakan mencapai 213,8 juta ton, rekor tertinggi kedua sepanjang sejarah.

Dampak krisis pupuk dan kebijakan Indonesia

Pelemahan produksi di sejumlah negara menurut FAO berkaitan dengan dua tekanan besar, yakni anomali iklim El Nino dan krisis pupuk global. Setelah konflik di Timur Tengah menutup Selat Hormuz pada akhir Februari 2026 dan diikuti pembatasan ekspor pupuk nitrogen oleh China, harga pupuk internasional melonjak tajam, dengan lalu lintas kapal di selat itu dilaporkan turun lebih dari 95 persen dan harga urea dunia naik 40 hingga 60 persen dalam beberapa minggu.

Dampak itu terlihat di negara-negara ASEAN yang bergantung pada pupuk impor. Di Thailand, petani dilaporkan menunda tanam ulang karena biaya pupuk dan bahan bakar tidak lagi tertutup hasil panen, sementara di Filipina kenaikan harga urea dan ongkos distribusi mendorong sebagian petani membiarkan hasil panen tidak dipetik karena biaya lebih besar dari harga jual.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah Indonesia menyatakan mengambil arah berbeda melalui penurunan Harga Eceran Tertinggi pupuk subsidi sebesar 20 persen yang berlaku sejak 22 Oktober 2025. Harga urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram dan NPK dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram, disertai penambahan volume pupuk subsidi hingga 700 ribu ton melalui efisiensi industri dan perbaikan tata kelola distribusi.

Amran mengatakan kebijakan itu membantu menjaga akses pupuk tetap mudah dan terjangkau bagi petani hingga ke tingkat desa. Menurut dia, kombinasi harga pupuk yang lebih rendah dan distribusi yang lebih baik menjadi salah satu faktor yang membuat produksi beras Indonesia tetap meningkat ketika banyak negara lain menghadapi tekanan biaya dan risiko gagal tanam.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang cadangan pangan strategis pemerintah jelang musim kemarau dan potensi dampak El Nino, kami mengulas kesiapan stok di luar beras untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga. Artikel itu menyoroti posisi cadangan beras pemerintah di Bulog, cadangan pangan pemerintah daerah di ratusan wilayah, serta penyaluran jagung pakan melalui program SPHP untuk mendukung peternak unggas saat tekanan pasokan meningkat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.