Saham bank jumbo menguat seiring beli selektif investor asing di pasar Indonesia
Saham perbankan besar di Bursa Efek Indonesia menguat pada perdagangan Senin, setelah minat beli investor asing kembali muncul pada sejumlah emiten utama pada akhir pekan lalu. Penguatan ini memberi sinyal positif bagi sektor perbankan, meski arus dana asing secara keseluruhan masih belum menunjukkan pemulihan yang merata.
Sorotan
- Investor asing melakukan net buy pada BMRI sebesar Rp 87,46 miliar, BBCA Rp 47,11 miliar, dan BBTN Rp 13,12 miliar menjelang penguatan saham bank jumbo.
- Saham BMRI naik 4,17% ke Rp 4.250, BBNI 3,22% ke Rp 3.530, BBRI 2,87% ke Rp 2.870, BBTN 2,12% ke Rp 1.205, dan BBCA 0,81% ke Rp 6.225 pada Senin.
- Tekanan jangka pendek sektor perbankan tetap tinggi akibat BI Rate 5,75%, pelemahan rupiah, serta net sell investor asing Rp 1,31 triliun pekan lalu.
Pergerakan saham dan arus dana asing
KONTAN Indonesia melaporkan, investor asing membukukan net buy pada perdagangan terakhir pekan lalu sebesar Rp 87,46 miliar di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), Rp 47,11 miliar di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan Rp 13,12 miliar di PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN). Pada perdagangan Senin, BMRI memimpin penguatan saham bank jumbo dengan kenaikan 4,17% ke Rp 4.250 per saham, diikuti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang naik 3,22% ke Rp 3.530 dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang menguat 2,87% ke Rp 2.870.
Di kelompok yang sama, BBTN naik 2,12% ke Rp 1.205 dan BBCA bertambah 0,81% ke Rp 6.225. Kenaikan serentak ini terjadi setelah investor asing kembali masuk secara terbatas ke saham-saham bank berkapitalisasi besar, setelah sebelumnya pasar saham masih dibayangi aksi jual bersih asing secara mingguan.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menilai kembalinya dana asing ke saham bank jumbo menjadi sinyal awal yang positif bagi emiten terkait maupun sektor perbankan secara keseluruhan. Namun, ia mengatakan pembelian itu masih bersifat selektif dan cenderung mencerminkan aksi bargain hunting pada saham yang telah terkoreksi cukup dalam, sehingga belum bisa dibaca sebagai kembalinya arus dana asing secara permanen.
Tekanan jangka pendek dan prospek sektor perbankan
Menurut Ekky, sentimen jangka pendek untuk sektor perbankan masih terbatas karena belum ada katalis positif baru yang cukup kuat. Rupiah masih berada dalam tekanan, sementara kenaikan BI Rate menjadi 5,75% berpotensi meningkatkan cost of fund dan menekan net interest margin, jika kenaikan biaya dana lebih cepat daripada penyesuaian bunga kredit.Ia juga menyoroti ketidakpastian geopolitik, pergerakan harga minyak, serta masuknya Indonesia ke dalam watchlist S&P Dow Jones Indices terkait potensi perubahan klasifikasi pasar, yang membuat investor asing masih cenderung berhati-hati. Sepanjang pekan lalu, investor asing juga masih mencatatkan net sell Rp 1,31 triliun di pasar saham, yang menunjukkan rotasi dana masih berlangsung secara selektif dan belum meluas ke seluruh pasar maupun ke sektor perbankan secara menyeluruh.
Di tengah tekanan tersebut, fundamental industri perbankan dinilai tetap solid karena pertumbuhan kredit masih positif, permodalan kuat, dan kualitas aset relatif terjaga. Ekky memperkirakan saham perbankan masih bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, sementara konfirmasi pemulihan yang lebih kuat baru terlihat jika pembelian asing berlangsung konsisten selama beberapa hari hingga beberapa pekan dan mulai meluas ke saham bank lainnya.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang penguatan IHSG yang kembali menembus level 6.000, kami menyoroti dorongan sentimen setelah peringkat utang Indonesia dipertahankan di level BBB dengan prospek stabil. Kami juga mencatat aktivitas perdagangan yang ramai serta penguatan sektoral yang luas, termasuk sektor keuangan, di tengah penekanan bahwa likuiditas pasar tetap terjaga meski sentimen sempat berubah.
Berita Foreign Investment Terbaru
- Forex
- Crypto