Bank-bank Indonesia perketat strategi dana murah setelah BI Rate naik
Kenaikan BI Rate ke 5,75% mendorong perbankan mencermati arah biaya dana sambil menyesuaikan strategi penghimpunan likuiditas pada paruh kedua 2026. Di tengah tekanan suku bunga yang lebih tinggi, bank mulai mengandalkan penguatan dana murah atau CASA untuk menjaga efisiensi pendanaan dan menahan dampak ke margin.
Sorotan
- Setelah BI Rate naik ke 5,75%, KB Bank alami kenaikan biaya dana per Juni 2026 dan perketat strategi penghimpunan dana murah untuk efisiensi pendanaan.
- Hingga Maret 2026, CASA BCA naik 11,2% menjadi Rp 1.089 triliun dan porsi CASA BRI naik ke 68,07%, menurunkan biaya dana BRI menjadi 2,33%.
- Bank Mandiri catat biaya dana 1,97% di kuartal I-2026 dan proyeksi stabil, sementara tekanan biaya dana perbankan tetap terbatas meski BI Rate naik dan ketidakpastian global meningkat.
Strategi pendanaan bank usai kenaikan suku bunga
KONTAN melaporkan, sejak Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75%, sejumlah bank mulai melihat kenaikan biaya dana sebagai konsekuensi siklus suku bunga. Wholesales Director PT Bank KB Indonesia Tbk Widodo Suryadi mengatakan biaya dana KB Bank per Juni 2026 naik dibandingkan periode sebelumnya, sejalan dengan penyesuaian BI Rate pada Mei.KB Bank menyatakan terus memantau perkembangan biaya dana agar tetap selaras dengan rencana bisnis hingga akhir tahun. Untuk menahan kenaikan tersebut, bank akan lebih selektif dalam menawarkan suku bunga khusus untuk penghimpunan dana sesuai kebutuhan likuiditas, sekaligus memperkuat porsi dana murah agar struktur pendanaan lebih efisien dan tidak bergantung pada dana berbiaya tinggi.
Hingga Mei 2026, dana pihak ketiga KB Bank tumbuh 6,03% secara tahunan menjadi Rp 44,08 triliun, ditopang kenaikan giro, tabungan, dan deposito. Dari sisi penyaluran kredit, perseroan juga menyatakan lebih berhati-hati dalam menetapkan suku bunga kredit dengan mempertimbangkan biaya dana, profil risiko, dan kondisi pasar.
Dampak terhadap margin dan industri perbankan
BCA menyatakan biaya dananya masih relatif terjaga berkat kekuatan bisnis perbankan transaksi. Per Maret 2026, CASA BCA mencapai Rp 1.089 triliun, naik 11,2% secara tahunan, dengan porsi 85,2% dari total dana pihak ketiga yang membantu menopang stabilitas biaya dana.Di BRI, dana pihak ketiga hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp 1.555 triliun, tumbuh 9,4% secara tahunan, sementara porsi CASA naik menjadi 68,07% dari 65,77% pada periode sama tahun lalu. Perbaikan struktur pendanaan itu mendorong biaya dana BRI turun menjadi 2,33% pada kuartal I-2026 dari 2,98% setahun sebelumnya. Bank Mandiri juga membukukan biaya dana 1,97% pada kuartal I-2026, turun dari 2,15% pada kuartal sebelumnya, dan menargetkan level itu bertahan di kisaran 1,9% hingga akhir tahun, dengan komponen biaya terbesar masih berasal dari deposito.
Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara Tbk Myrdal Gunarto menilai kenaikan BI Rate tetap mendorong penyesuaian biaya dana perbankan, tetapi dampaknya tidak langsung karena ada jeda transmisi. Menurut dia, tekanan saat ini juga dipengaruhi ketidakpastian global, termasuk tensi geopolitik, kenaikan harga minyak, dan penguatan dolar Amerika Serikat, namun dampaknya terhadap net interest margin dan profitabilitas perbankan diperkirakan masih terbatas.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang likuiditas industri perbankan di tengah kenaikan suku bunga acuan BI, kami menyoroti keyakinan OJK bahwa dana pihak ketiga masih tumbuh kuat dan kondisi likuiditas tetap memadai meski persaingan pendanaan meningkat. Kami juga mencatat OJK menilai transmisi kenaikan suku bunga ke cost of fund dan suku bunga kredit tidak terjadi seketika karena bank umumnya membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menyesuaikan, sehingga prospek pertumbuhan kredit hingga 2026 dinilai tetap terjaga.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto