BKPM catat realisasi investasi semester I-2026 capai Rp1.010,6 triliun, Singapura tetap investor terbesar

BKPM catat realisasi investasi semester I-2026 capai Rp1.010,6 triliun, Singapura tetap investor terbesar
Investasi 2026 Tembus Rp1T

Arus modal ke Indonesia pada paruh pertama 2026 tetap bergerak mendekati separuh target tahunan pemerintah, dengan penanaman modal asing masih sedikit melampaui investasi domestik. Hingga Juni 2026, realisasi investasi mencapai 49,5 persen dari sasaran Rp2.041,3 triliun dan tumbuh 7,2 persen secara tahunan.

Sorotan

  • Realisasi investasi Indonesia semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, naik 7,2 persen year-on-year dan sejalan dengan target Rp2.041,3 triliun untuk 2026.
  • Penanaman Modal Asing sebesar Rp507,6 triliun atau 50,2 persen sedikit mendominasi di atas Penanaman Modal Dalam Negeri yang mencapai Rp502,9 triliun.
  • Sektor industri logam dasar menyumbang terbesar dengan Rp150,4 triliun (14,9 persen), diikuti jasa data center Rp114 triliun (11,3 persen) dan pertambangan Rp105,3 triliun.

Capaian semester I dan komposisi investasi

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat realisasi investasi sebesar Rp1.010,6 triliun pada semester I-2026. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan capaian Januari hingga Juni itu masih sejalan dengan target investasi 2026 yang ditetapkan sebesar Rp2.041,3 triliun.

Menurut Rosan, realisasi tersebut menunjukkan pengeluaran atau spending investor di Indonesia meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi komposisi, Penanaman Modal Asing mendominasi dengan nilai Rp507,6 triliun atau 50,2 persen, sedikit di atas Penanaman Modal Dalam Negeri sebesar Rp502,9 triliun atau 49,8 persen.

Penyebaran investasi antara Jawa dan luar Jawa juga nyaris berimbang. Jawa membukukan Rp502,8 triliun dengan porsi 49,8 persen dan pertumbuhan 7,7 persen, sedangkan luar Jawa mencapai Rp507,8 triliun dengan porsi 50,2 persen dan pertumbuhan 6,7 persen.

Dampak regional dan sektor penopang utama

Secara administratif kumulatif untuk PMA dan PMDN, DKI Jakarta masih menjadi tujuan investasi terbesar dengan kontribusi 17,2 persen. Setelah itu, realisasi tertinggi berikutnya tercatat di Jawa Barat sebesar Rp138,1 triliun, Jawa Timur Rp72,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp68,7 triliun, dan Banten Rp66,3 triliun.

Untuk PMA murni, wilayah luar Jawa seperti Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau menjadi tujuan utama seiring kuatnya potensi mineral. Sementara pada PMDN, DKI Jakarta menjadi kontributor terbesar dengan Rp106,5 triliun atau 21,2 persen, diikuti Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Nusa Tenggara Barat.

Dari sisi sektor, industri logam dasar, barang logam bukan mesin, dan peralatannya menjadi penyumbang terbesar dengan Rp150,4 triliun atau 14,9 persen. Sektor jasa lainnya yang didominasi data center menyusul dengan Rp114 triliun atau 11,3 persen, diikuti pertambangan Rp105,3 triliun, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sekitar 10,2 persen, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar Rp85,5 triliun atau 8,5 persen.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang pembangunan proyek Gas Abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, kami mengulas dimulainya fase konstruksi investasi sekitar Rp390 triliun yang memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal. Kami juga menyoroti proyeksi kontribusi ekonominya bagi nasional dan Maluku, serta rencana pembangunan fasilitas carbon capture and storage (CCS) sebagai bagian dari agenda transisi energi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.