Kadin usulkan diskon tarif listrik 50 persen untuk menopang daya beli pada semester II-2026
Menjelang paruh kedua 2026, usulan stimulus konsumsi kembali mengemuka seiring kekhawatiran terhadap daya beli rumah tangga. Skema diskon tarif listrik 50 persen dinilai dapat membantu menjaga belanja masyarakat hingga akhir 2026, bersamaan dengan dorongan perluasan bantuan sosial.
Sorotan
- Kadin mengusulkan diskon tarif listrik 50 persen untuk diberlakukan pada semester II-2026 guna menopang daya beli masyarakat.
- Selain potongan tarif listrik, penyaluran bantuan sosial dalam jumlah besar diusulkan pada kuartal tiga dan empat tahun 2026.
- Stimulus konsumsi berupa diskon tarif dan bansos dinilai penting untuk menjaga keseimbangan konsolidasi fiskal dan stabilitas konsumsi domestik hingga akhir 2026.
Usulan stimulus untuk semester II-2026
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, usulan diskon tarif listrik 50 persen disampaikan Direktur Insights Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, untuk diberlakukan pada semester II-2026 sebagai tambahan stimulus konsumsi. Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah penopang daya beli masyarakat pada kuartal ketiga dan kuartal keempat 2026.Selain pemotongan tarif listrik, Fakhrul juga mengusulkan agar penyaluran bantuan sosial diperbesar. Menurut dia, dorongan belanja rumah tangga perlu diperkuat, terutama ketika pemerintah sedang menjalankan konsolidasi fiskal.
Dalam pernyataannya di Menara Kadin, Jakarta, Fakhrul mengatakan bansos dalam jumlah besar sebaiknya diberikan pada kuartal tiga dan kuartal empat. Kombinasi stimulus tersebut diposisikan sebagai upaya menjaga konsumsi masyarakat pada paruh kedua tahun ini.
Dampak bagi konsumsi dan kebijakan fiskal
Kebijakan diskon tarif listrik 50 persen sebelumnya pernah diberikan pemerintah pada Januari hingga Februari 2025. Langkah itu disebut sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia, sehingga kembali diangkat sebagai opsi untuk menopang pengeluaran rumah tangga.Bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan, usulan ini menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara konsolidasi fiskal dan dukungan terhadap konsumsi domestik. Jika diadopsi, stimulus energi dan bansos berpotensi menjadi instrumen untuk menahan pelemahan daya beli hingga akhir 2026.
Dalam liputan kami sebelumnya tentang perdebatan sasaran program Makan Bergizi Gratis (MBG), muncul usulan agar penerima manfaat difokuskan pada kelompok paling rentan—seperti masyarakat miskin di wilayah 3T, ibu hamil, dan balita—sehingga jumlah penerima turun menjadi sekitar 26 juta dari target 82 juta. Pembatasan cakupan ini dinilai dapat membuat program lebih tepat sasaran sekaligus menekan kebutuhan anggaran, sementara DPR juga menyoroti perlunya peta jalan dan tata kelola yang lebih jelas.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto