Kementan siapkan keberlanjutan Program UPLAND di Malang untuk menjaga pendapatan petani

Kementan siapkan keberlanjutan Program UPLAND di Malang untuk menjaga pendapatan petani
UPLAND terus lindungi petani

Menjelang akhir masa pelaksanaan Program UPLAND pada Oktober 2026, Kementerian Pertanian menyiapkan keberlanjutan pengelolaan program di Kabupaten Malang agar manfaat ekonomi bagi petani tetap terjaga. Program yang berjalan sejak 2021 itu difokuskan pada penguatan produktivitas, infrastruktur, dan pendampingan usaha tani di kawasan dataran tinggi.

Sorotan

  • Program UPLAND Kementerian Pertanian berlangsung 2021–2026 di 14 kabupaten, dengan Malang difokuskan pada transisi kemandirian pascaproyek Oktober 2026.
  • Produktivitas bawang merah di Malang meningkat dari 3–5 ton menjadi 16–18 ton per hektare dan pendapatan petani mencapai Rp300 juta per hektare per tiga bulan.
  • Infrastruktur seperti jalan usaha tani, irigasi, dan embung menurunkan biaya distribusi dan memastikan ketersediaan air, memperkuat daya saing hortikultura Malang.

Rencana keberlanjutan program di Malang

Seperti disampaikan Kementerian Pertanian Indonesia, supervisi dan monitoring Program UPLAND dilakukan di Desa Tawang Sari, Kabupaten Malang, pada Kamis, 10 Juli, untuk mengevaluasi capaian sekaligus memastikan infrastruktur dan fasilitas yang telah dibangun tetap dimanfaatkan optimal setelah program selesai.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pembangunan pertanian tidak hanya berorientasi pada kenaikan produksi, tetapi juga pada manfaat ekonomi yang nyata bagi petani. Menurut dia, peningkatan produktivitas harus diikuti nilai jual hasil panen yang lebih baik agar kesejahteraan petani ikut naik.

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, mengatakan Program UPLAND merupakan program jangka panjang yang berjalan dari 2021 hingga 2026 dan diterapkan di 14 kabupaten terpilih di Indonesia, termasuk Kabupaten Malang. Menjelang berakhirnya program pada Oktober 2026, ia menekankan pentingnya kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mandiri dalam melanjutkan pengelolaan fasilitas yang sudah dibangun.

Sebagai bagian dari transisi itu, Kementan bersama Pemerintah Kabupaten Malang menyiapkan strategi lanjutan melalui integrasi pendampingan ke dalam program pembangunan pertanian reguler. Langkah ini ditujukan agar manfaat program tetap berlanjut dalam jangka panjang.

Dampak produktivitas dan pendapatan hortikultura

Hermanto mengatakan Program UPLAND telah mendorong peningkatan nyata pada produktivitas pertanian, khususnya komoditas bawang merah. Melalui penerapan teknologi budidaya, pembangunan infrastruktur, dan pendampingan petani, Indeks Pertanaman meningkat dari satu hingga dua kali tanam menjadi tiga hingga empat kali tanam per tahun.

Peningkatan intensitas tanam itu ikut mengangkat produktivitas bawang merah dari rata-rata 3 sampai 5 ton per hektare menjadi 16 sampai 18 ton per hektare. Berdasarkan perhitungan di lokasi kegiatan, petani bawang merah dengan lahan satu hektare mampu memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp300 juta setiap tiga bulan, atau sekitar Rp100 juta per bulan setelah dikurangi biaya produksi.

Pendapatan yang lebih tinggi juga disebut dirasakan petani dengan lahan yang lebih kecil, yakni sekitar Rp50 juta per bulan untuk setengah hektare dan sekitar Rp25 juta per bulan untuk seperempat hektare. Selain itu, pembangunan jalan usaha tani, jaringan irigasi, embung, dan sistem perpipaan membantu menekan biaya distribusi hasil panen serta menjaga ketersediaan air sepanjang tahun.

Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, mengatakan dukungan pemerintah pusat melalui Program UPLAND telah memperkuat daya saing sektor hortikultura di wilayah dataran tinggi Kabupaten Malang. Menurut dia, keberhasilan program diukur dari kemampuan manfaatnya untuk terus hidup dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setelah proyek selesai.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang percepatan implementasi sistem Pertanian Modern PM-AAS, kami membahas strategi Kementerian Pertanian untuk menaikkan produktivitas padi di lahan irigasi sekaligus memperkuat pendapatan petani. Uji coba dua tahun disebut mendorong hasil panen ke kisaran 9–12 ton per hektare dan, meski biaya produksi naik, keuntungan bersih petani meningkat signifikan, dengan proyeksi kontribusi tambahan produksi beras nasional jika diterapkan lebih luas.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.