Kemenekraf pacu hilirisasi produk lokal saat sektor kuliner dominasi PDB ekonomi kreatif

Kemenekraf pacu hilirisasi produk lokal saat sektor kuliner dominasi PDB ekonomi kreatif
Kuliner dongkrak ekonomi kreatif

Pemerintah terus mendorong hilirisasi produk lokal untuk memperkuat daya saing industri kreatif nasional di pasar global. Di tengah upaya itu, subsektor kuliner masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto ekonomi kreatif dengan pangsa sekitar 41,0 persen.

Sorotan

  • Kemenparekraf menekankan hilirisasi produk kreatif lokal untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing di tingkat global serta regional.
  • Subsektor kuliner menyumbang sekitar 41,0 persen dari total PDB ekonomi kreatif Indonesia per 17 Juli 2026, dominan dibanding subsektor lain.
  • CEO Rasa Group menyoroti pentingnya kolaborasi, inovasi, dan pengembangan talenta untuk memperkuat daya saing industri makanan dan minuman nasional.

Strategi hilirisasi dan kontribusi kuliner

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif menempatkan hilirisasi sebagai langkah penting agar produk kreatif lokal memiliki nilai tambah lebih tinggi dan mampu bersaing di tingkat regional maupun global.

Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kemenekraf, Yuke Sri Rahayu, mengatakan subsektor kuliner sampai saat ini masih menjadi kontributor terbesar bagi PDB sektor ekonomi kreatif. Dalam keterangannya pada Jumat, 17 Juli 2026, ia menyebut pangsa kuliner mencapai sekitar 41,0 persen dari total PDB ekonomi kreatif.

Yuke juga mengakui industri kreatif di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam meningkatkan nilai tambah produk melalui proses hilirisasi. Menurut dia, penguatan pada tahap ini diperlukan untuk membangun merek lokal yang lebih kuat di pasar regional maupun global.

Dampak bagi industri F&B dan daya saing nasional

Penekanan pada hilirisasi mencerminkan upaya pemerintah agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk asing, tetapi juga tampil sebagai pemain utama dengan portofolio merek lokal yang kompetitif. Arah kebijakan ini menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu motor pertumbuhan yang diharapkan memperluas skala usaha dan memperkuat posisi industri nasional.

Sejalan dengan agenda tersebut, CEO Rasa Group, Sherley Ruslie, menilai ruang kolaborasi perlu diperkuat untuk mendorong inovasi, pengembangan talenta, dan peningkatan daya saing industri makanan dan minuman Indonesia. Fokus pada kolaborasi ini menjadi salah satu faktor yang dapat menopang pengembangan subsektor kuliner, yang saat ini masih menjadi penopang utama ekonomi kreatif.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kolaborasi BUMN membangun ekosistem advanced materials, kami mengulas penandatanganan nota kesepahaman antara Krakatau Steel, MIND ID, Defend ID, dan Perminas untuk memperkuat rantai nilai terintegrasi dari mineral hingga manufaktur bernilai tambah. Inisiatif ini ditujukan untuk mempercepat hilirisasi, mengurangi ketergantungan impor (terutama baja), serta memperluas kapasitas pasok dan produksi agar daya saing industri nasional meningkat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.