Kementan pertahankan opini WTP, perkuat tata kelola dan ketahanan pangan
Di tengah fokus pemerintah pada swasembada pangan dan ketahanan sektor pertanian, Kementerian Pertanian kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian atas laporan keuangan tahun anggaran 2025. Capaian ini disertai kenaikan pendapatan, penguatan posisi aset, dan upaya mitigasi iklim yang disebut tetap menjaga produksi pangan nasional.
Sorotan
- Kementerian Pertanian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian dari BPK atas Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2025 dengan realisasi pendapatan Rp501 miliar, naik 43,79 persen.
- Total aset hingga 31 Desember 2025 tercatat Rp86,16 triliun dan nilai ekuitas meningkat 5,9 persen menjadi Rp83,39 triliun dibanding tahun sebelumnya.
- Luas puso akibat El Nino hingga Juli 2026 sekitar 12 ribu hektare, jauh menurun dari 217 ribu hektare pada 2015, mencerminkan efektivitas mitigasi iklim Kementan.
Kinerja keuangan 2025 dan capaian audit
Seperti dilaporkan Kementerian Pertanian Indonesia, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyampaikan dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta pada Rabu, 15 Juli, bahwa Kementan kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan atas Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2025.Sudaryono mengatakan predikat WTP menunjukkan pengelolaan keuangan negara di Kementan makin transparan, efektif, dan akuntabel. Ia menegaskan capaian itu bukan sekadar hasil administratif, melainkan indikator bahwa anggaran negara digunakan lebih tepat sasaran untuk memperkuat sektor pertanian nasional dan memberi manfaat bagi petani.
Berdasarkan laporan keuangan 2025, realisasi pendapatan Kementan mencapai Rp501 miliar, naik 43,79 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasi belanja mencapai Rp25,09 triliun untuk mendukung berbagai program strategis pembangunan pertanian, dengan kenaikan pendapatan terutama berasal dari penjualan vaksin Penyakit Mulut dan Kuku dan penerimaan kembali belanja tahun anggaran sebelumnya.
Hingga 31 Desember 2025, total aset Kementan tercatat Rp86,16 triliun, sementara nilai ekuitas mencapai Rp83,39 triliun, meningkat 5,9 persen dari tahun sebelumnya. Sudaryono menyebut hasil itu mencerminkan komitmen kementerian membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan berorientasi pada hasil.
Mitigasi iklim dan dampak bagi sektor pangan
Di saat yang sama, Kementan terus menjalankan langkah mitigasi untuk menjaga produksi pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim. Upaya itu mencakup sistem informasi peringatan dini Si-PERDITAN, penguatan infrastruktur air, pompanisasi, rehabilitasi jaringan irigasi, penyediaan benih tahan kekeringan, serta koordinasi dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.Menurut Sudaryono, luas puso akibat El Nino hingga Juli 2026 sekitar 12 ribu hektare, jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 217 ribu hektare pada 2015. Ia menilai kondisi itu menunjukkan kesiapsiagaan pemerintah semakin kuat sehingga produksi pangan nasional tetap dapat dijaga.
Untuk menghadapi musim kemarau, Kementan juga mempercepat penyediaan alat dan mesin pertanian seperti pompa air, traktor, rice transplanter, dan sarana pendukung lain agar produktivitas lahan tetap optimal di berbagai daerah. Sudaryono menambahkan opini WTP harus menjadi pemacu untuk meningkatkan pelayanan publik, menjaga integritas pengelolaan keuangan negara, dan mempercepat transformasi sektor pertanian sesuai arah percepatan swasembada pangan.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja anggaran BNPP RI pada TA 2025, kami menyoroti realisasi anggaran yang mencapai 99,38% dari pagu setelah penyesuaian efisiensi belanja dan relaksasi anggaran. Laporan itu juga mencatat BNPP RI mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK atas laporan keuangan 2024 untuk ke-11 kalinya berturut-turut, sebagai penanda konsistensi akuntabilitas pengelolaan keuangan.
- Forex
- Crypto