Kebijakan setop impor molase dorong stabilisasi harga tebu, kata Kementan

Kebijakan setop impor molase dorong stabilisasi harga tebu, kata Kementan
Molase impor distop, harga stabil

Penghentian impor molase disebut mulai meredakan tekanan yang sebelumnya dirasakan petani tebu di tengah peninjauan hasil olahan panen raya serentak di Malang. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa harga molase kembali stabil setelah larangan impor diberlakukan melalui instruksi presiden.

Sorotan

  • Kementerian Pertanian menargetkan produktivitas tebu nasional naik dari sekitar 60 ton menjadi 100 ton per hektare, mendekati capaian India dan Brasil.
  • Pemerintah menegaskan penghentian impor molase untuk mendorong stabilisasi harga tebu dan memperbaiki pendapatan petani dalam negeri.
  • Jika harga turunan tebu stabil dan produktivitas meningkat, kebijakan ini memperkuat pasokan bahan baku industri gula berbasis tebu di Indonesia.

Peningkatan produktivitas tebu nasional

Menurut Kompas, selain menyoroti harga, Kementerian Pertanian menyatakan kebutuhan berikutnya di sektor tebu adalah menaikkan produktivitas. Amran mencontohkan India dan Brasil yang disebut mampu menghasilkan 120 ton hingga 130 ton tebu, sementara produktivitas dalam negeri yang ia sebut masih sekitar 60 ton ditargetkan naik menjadi 100 ton.

Menurut Amran, kenaikan produktivitas itu memerlukan penerapan teknologi tinggi. Dalam agenda yang sama, Prabowo juga meninjau area luar yang menampilkan alat berat dan aktivitas petani yang sedang memanen tebu, serta berbincang dengan sejumlah petani dan menteri, termasuk Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan.

Implikasi bagi sektor gula dan petani

Penekanan pada penghentian impor molase dan peningkatan hasil panen menunjukkan fokus pemerintah pada perbaikan pendapatan petani serta efisiensi rantai pasok sektor tebu. Jika stabilisasi harga bahan turunan tebu bertahan dan produktivitas meningkat, kebijakan ini berpotensi memperkuat pasokan bahan baku industri berbasis gula di Indonesia.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penguatan tata kelola koperasi petani tebu, kami mengulas langkah pemerintah memperkuat peran koperasi untuk memperluas akses pembiayaan, memastikan serapan panen, dan mengefisienkan distribusi hasil tebu. Upaya ini diposisikan untuk meningkatkan posisi tawar serta kesejahteraan petani, sekaligus mendorong produktivitas dan rendemen guna mendukung target swasembada gula yang berkelanjutan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.