Amartha perkuat strategi kualitas pembiayaan saat risiko kredit fintech membaik
Perbaikan kualitas pembiayaan fintech P2P lending di Indonesia mendorong pelaku industri untuk memperketat pengelolaan risiko di tengah permintaan kredit digital yang tetap tumbuh. Amartha menilai tren penurunan rasio gagal bayar menjadi sinyal positif, tetapi tetap perlu dijaga melalui prinsip kehati-hatian dan penguatan seleksi debitur.
Sorotan
- TWP90 industri fintech P2P lending turun menjadi 4,42% per Mei 2026 dari 4,62% pada April 2026 menurut OJK.
- TWP90 Amartha tercatat 4,84% per 20 Juli 2026, tetap di bawah ambang batas OJK sebesar 5%.
- Outstanding pembiayaan fintech P2P lending nasional mencapai Rp 103,73 triliun per Mei 2026, tumbuh 25,60% secara tahunan.
Strategi Amartha menjaga mutu portofolio
KONTAN melaporkan, tingkat wanprestasi di atas 90 hari, atau TWP90, industri fintech P2P lending secara agregat turun menjadi 4,42% per Mei 2026 dari 4,62% pada April 2026, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, atau OJK. Di tengah perbaikan itu, PT Amartha Mikro Fintek memandang disiplin penyaluran kredit tetap penting untuk mempertahankan kualitas pembiayaan.
VP Public Relations Amartha Harumi Supit mengatakan perusahaan terus memperkuat kualitas portofolio pembiayaan, terutama untuk pelaku usaha produktif. Menurut dia, langkah itu antara lain dilakukan melalui diversifikasi sektor pembiayaan dan wilayah operasional agar risiko dapat dikelola dengan lebih terukur.
Dalam penilaian kelayakan pembiayaan, Amartha menggabungkan alternatif credit scoring berbasis kecerdasan buatan, atau AI, dan machine learning. Proses tersebut juga diperkuat dengan pendampingan langsung oleh lebih dari 10.000 tenaga lapangan yang tersebar di lebih dari 50.000 desa di Indonesia, sehingga perusahaan dapat memahami kondisi usaha nasabah secara lebih menyeluruh.
Dampak bagi industri pembiayaan digital
Harumi menambahkan, di tengah dinamika ekonomi, termasuk potensi dampak pemutusan hubungan kerja, kombinasi teknologi dan pendampingan lapangan menjadi kunci untuk menjaga kualitas pembiayaan. Pendekatan itu juga dinilai penting agar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang masih memiliki prospek tetap memperoleh akses permodalan.Berdasarkan data di situs resmi perusahaan, TWP90 Amartha tercatat 4,84% per 20 Juli 2026. Angka itu masih berada di bawah ambang batas OJK sebesar 5%.
Di tingkat industri, OJK mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 103,73 triliun per Mei 2026. Nilai tersebut tumbuh 25,60% secara tahunan, mencerminkan permintaan pembiayaan digital yang masih meningkat.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan laba industri pinjaman daring pada Mei 2026, kami menyoroti bagaimana pelaku industri perlu tetap memprioritaskan kualitas pembiayaan di tengah ekspansi. Kami juga mencatat Amartha mengandalkan machine learning serta dukungan sekitar 10.000 tenaga lapangan untuk memperkuat analisis risiko dan pendampingan UMKM, sehingga portofolio tetap sehat sekaligus akses permodalan terus meluas.
Berita OJK Terbaru
- Forex
- Crypto