LPS targetkan 2 juta rekening baru per tahun untuk dorong inklusi keuangan

LPS targetkan 2 juta rekening baru per tahun untuk dorong inklusi keuangan
LPS incar 2 juta rekening

Di tengah masih besarnya jumlah masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan menargetkan sekitar 2 juta orang unbanked masuk ke sistem perbankan setiap tahun. Sasaran itu menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menekan jumlah warga tanpa rekening yang saat ini diperkirakan masih sekitar 15 juta orang.

Sorotan

  • LPS menargetkan penambahan 2 juta rekening baru setiap tahun untuk meningkatkan inklusi keuangan nasional hingga 2027.
  • LPS berharap jumlah masyarakat tanpa rekening turun bertahap menjadi sekitar 13 juta orang pada tahun depan melalui edukasi dan literasi keuangan.
  • LPS menyoroti risiko rekening pasif, mendorong penutupan rekening dormant demi keamanan industri perbankan dan nasabah.

Target inklusi dan fokus edukasi

Menurut Okezone Economy, Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution mengatakan target penetrasi tersebut merupakan bagian dari komitmen LPS dalam mendorong peningkatan inklusi keuangan nasional secara berkelanjutan. Ia menyampaikan hal itu di sela-sela acara Lampung Financial Festival di Bandar Lampung pada Minggu, 6 September 2026.

Farid menjelaskan LPS ingin mengurangi jumlah masyarakat yang tidak memiliki rekening sekitar 2 juta orang setiap tahun. Dengan pendekatan literasi dan edukasi yang lebih masif, ia berharap jumlah masyarakat yang belum memiliki rekening dapat turun secara bertahap pada tahun depan menjadi sekitar 13 juta orang.

Risiko rekening pasif dan dampak bagi sektor perbankan

Farid menegaskan keberhasilan inklusi keuangan tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah rekening baru. LPS juga memberi perhatian pada rekening pasif atau dormant yang berpotensi disalahgunakan untuk kegiatan yang tidak semestinya.

Untuk menekan risiko itu, LPS menggencarkan edukasi agar masyarakat menutup rekening yang sudah tidak lagi digunakan. Langkah ini menunjukkan bahwa perluasan akses perbankan juga dibarengi penguatan kualitas penggunaan rekening, agar pertumbuhan inklusi keuangan berjalan lebih aman bagi industri perbankan dan nasabah.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kesenjangan literasi dan inklusi keuangan, kami menyoroti peringatan LPS bahwa akses layanan keuangan yang tumbuh lebih cepat daripada pemahaman masyarakat dapat memicu risiko seperti pinjaman online ilegal, penipuan, hingga penggunaan paylater yang tidak bijak. LPS juga mencatat selisih sekitar 24 poin antara inklusi dan literasi, sehingga perluasan akses perlu dibarengi edukasi agar pertumbuhan sektor keuangan tetap aman dan berkelanjutan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.