BCA andalkan surat berharga untuk kelola likuiditas saat kredit tumbuh

BCA andalkan surat berharga untuk kelola likuiditas saat kredit tumbuh
BCA andalkan surat berharga

Di tengah pertumbuhan penyaluran kredit hingga Agustus 2026, PT Bank Central Asia Tbk tetap menempatkan sebagian dana pada surat berharga untuk menjaga likuiditas. Strategi ini berjalan bersamaan dengan upaya bank menyeimbangkan kecukupan dana, ekspansi kredit yang sehat, dan penerapan manajemen risiko secara hati-hati.

Sorotan

  • BCA mencatat pertumbuhan kredit 10,5% secara tahunan menjadi Rp 1.017 triliun per Agustus 2026, sambil mengalokasikan dana ke surat berharga.
  • Kepemilikan surat berharga BCA turun menjadi Rp 393,79 triliun per Agustus 2026 dari Rp 401,05 triliun tahun sebelumnya, mencerminkan penyesuaian pada komposisi aset likuid.
  • BCA menegaskan strategi pengelolaan likuiditas tetap pruden di tengah ekspansi kredit, dengan menyeimbangkan pertumbuhan pinjaman dan risiko likuiditas.

Strategi likuiditas di tengah ekspansi kredit

Seperti dilaporkan KONTAN, PT Bank Central Asia Tbk mencatat pertumbuhan kredit 10,5% secara tahunan menjadi Rp 1.017 triliun per Agustus 2026, sembari tetap mengalokasikan dana ke instrumen surat berharga sebagai bagian dari pengelolaan likuiditas.

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan fungsi utama perbankan adalah sebagai lembaga intermediasi ekonomi melalui penyaluran kredit. Namun, BCA juga menempatkan dana pada sejumlah instrumen surat berharga, termasuk obligasi pemerintah, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, atau SRBI, dan surat berharga lainnya.

Menurut Hera, penempatan dana tersebut menjadi bagian dari strategi pengelolaan likuiditas perusahaan sekaligus mendukung perekonomian nasional. BCA juga menyatakan terus menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dan ekspansi kredit yang sehat.

Dampak pada struktur aset dan kehati-hatian bank

Berdasarkan laporan keuangan BCA per Agustus 2026, kepemilikan surat berharga bank ini mencapai Rp 393,79 triliun. Nilai itu turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 401,05 triliun.

Penurunan kepemilikan surat berharga di tengah pertumbuhan kredit menunjukkan BCA tetap mengatur komposisi aset likuidnya sambil mendorong penyaluran pinjaman. Bank juga menegaskan komitmennya untuk mengelola likuiditas secara pruden dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam manajemen risiko.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang prospek laba bank-bank besar Indonesia pada kuartal III 2026, kami menyoroti bahwa pertumbuhan laba masih positif meski ada perlambatan kredit dan tekanan biaya dana. Kami juga membahas faktor penentu hingga akhir tahun—seperti net interest margin, porsi dana murah (CASA), dan kualitas aset—serta bagaimana kondisi likuiditas dapat memengaruhi pilihan bank antara menambah penempatan di surat berharga dan mendorong ekspansi kredit.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.