Pertumbuhan industri securities crowdfunding di Indonesia berlanjut hingga akhir 2026, ditopang kinerja penghimpunan dana dan bertambahnya efek serta penerbit baru sampai September. ALUDI menilai tren ini didukung kecocokan kebutuhan pendanaan penerbit dengan preferensi investor yang kini lebih memilih tenor lebih pendek dan skema bagi hasil yang jelas.
Sorotan
- ALUDI memproyeksikan industri urun dana tumbuh 5% pada kuartal IV-2026 dengan total dana dihimpun agregat mencapai Rp2,06 triliun per September 2026.
- Instrumen pendanaan berbasis utang dan sukuk masih dominan, dengan penghimpunan dana SCF syariah Rp1,19 triliun dan pangsa pasar 57,68% per September 2026.
- Proyek energi bersih dan pertanian berkelanjutan semakin diminati investor, didukung selektifitas lebih tinggi akibat kondisi ekonomi menantang.
Proyeksi pertumbuhan dan pendorong pasar
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia memproyeksikan industri urun dana atau securities crowdfunding dapat tumbuh 5% pada kuartal IV-2026. Hingga September 2026, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan industri mencatat 15 efek baru dan 9 penerbit baru, dengan dana dihimpun senilai Rp22,92 miliar.Dengan perkembangan tersebut, total nilai dana yang dihimpun melalui SCF secara agregat mencapai Rp2,06 triliun. Ketua Umum ALUDI Patrick Gunadi mengatakan capaian positif hingga kuartal III-2026 didorong oleh kesesuaian antara kebutuhan pendanaan penerbit dan preferensi investor.
Ia menambahkan investor saat ini cenderung mencari instrumen dengan tenor lebih pendek dan skema bagi hasil yang jelas. Pada saat yang sama, penerbit juga makin memahami kebutuhan pasar dan menyiapkan penawaran yang lebih sesuai.
Untuk kuartal berikutnya, Patrick melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka, terutama bagi penerbit yang memiliki kebutuhan usaha yang jelas, arus kas yang dapat dianalisis, serta struktur pendanaan yang memadai.
Selektivitas investor dan segmen yang diminati
Meski prospeknya tetap positif, ALUDI menilai industri masih perlu mencermati kondisi ekonomi yang tetap menantang karena membuat investor semakin selektif. Karena itu, proses penelaahan, uji tuntas, dan penyusunan struktur pendanaan perlu dilakukan lebih cermat sebelum penawaran dipasarkan.Dari sisi instrumen, Patrick menilai pendanaan berbasis utang, termasuk efek bersifat utang dan sukuk, masih lebih diminati investor. Sementara itu, OJK mencatat penghimpunan dana SCF syariah mencapai Rp1,19 triliun per September 2026, dengan pangsa pasar 57,68%.
Dari sisi sektor, proyek yang berkaitan dengan keberlanjutan, seperti energi bersih dan pertanian berkelanjutan, terus menunjukkan daya tarik dan relatif cepat mendapat perhatian investor. Tren ini menunjukkan minat pasar tetap terjaga pada instrumen dan sektor yang menawarkan arus kas lebih terukur serta tema investasi yang selaras dengan kebutuhan jangka menengah.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja Danamart di securities crowdfunding (SCF), kami mengulas kuatnya permintaan pembiayaan alternatif yang tercermin dari total penghimpunan dana kumulatif Rp188 miliar hingga awal Oktober 2026. Ulasan tersebut juga menyoroti fokus Danamart pada kualitas penerbit dan transparansi kepada pemodal, serta peluang ekspansi ke sektor berprospek jangka panjang seperti infrastruktur kendaraan listrik dan proyek SPKLU dengan pendekatan selektif.
Berita UTrade Markets Terbaru
- Forex
- Crypto