Bank Jago catat DPK naik 21% pada kuartal III 2026

Bank Jago catat DPK naik 21% pada kuartal III 2026
DPK Bank Jago Meroket

Kinerja penghimpunan dana PT Bank Jago Tbk terus menguat hingga akhir September 2026, seiring porsi dana murah yang sudah melampaui separuh total dana pihak ketiga. Pertumbuhan ini ikut menopang ekspansi kredit, kenaikan aset, dan lonjakan laba bersih bank digital tersebut pada kuartal III 2026.

Sorotan

  • Bank Jago membukukan dana pihak ketiga Rp 28,9 triliun per September 2026, naik 21% yoy, dengan komposisi CASA 53% dan deposito 47%.
  • Kredit Bank Jago tumbuh 19% yoy menjadi Rp 27,9 triliun per September 2026, dengan rasio kredit bermasalah gross tetap terjaga di 0,9%.
  • Total aset naik 22% menjadi Rp 42,1 triliun dan laba bersih setelah pajak naik 50% menjadi Rp 298 miliar pada kuartal III 2026.

Komposisi dana dan pertumbuhan bisnis

Seperti dilaporkan Kontan Indonesia, PT Bank Jago Tbk membukukan dana pihak ketiga sebesar Rp 28,9 triliun per September 2026, naik 21% secara tahunan. Dalam keterangan resmi pada Rabu, 28 Oktober 2026, Direktur Utama Bank Jago Arief Harris menyatakan perseroan terus menjaga kualitas pertumbuhan, baik dari sisi penghimpunan dana maupun penyaluran kredit, untuk memperkuat fundamental bisnis.

Komposisi dana pihak ketiga tersebut ditopang oleh current account and savings account sebesar 53% dari total DPK, atau setara Rp 15,4 triliun. Sementara itu, deposito menyumbang 47% atau Rp 13,5 triliun.

Di sisi penyaluran, kredit Bank Jago mencapai Rp 27,9 triliun per September 2026, tumbuh 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah gross tercatat 0,9%, menunjukkan kualitas aset tetap terjaga di tengah pertumbuhan kredit bank.

Dampak pada profitabilitas dan permodalan

Basis nasabah Bank Jago juga terus bertambah hingga mencapai 19 juta pada akhir September 2026. Dari jumlah itu, 13,1 juta merupakan nasabah funding yang menggunakan Aplikasi Jago.

Pertumbuhan bisnis tersebut mendorong total aset naik 22% secara tahunan menjadi Rp 42,1 triliun, dari Rp 34,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih setelah pajak meningkat 50% menjadi Rp 298 miliar pada kuartal III 2026, sementara rasio kecukupan modal berada di level 27,5% per September 2026.

Kenaikan dana murah, pertumbuhan kredit, dan modal yang tetap kuat memberi ruang bagi Bank Jago untuk melanjutkan ekspansi bisnis digitalnya. Bagi industri perbankan, capaian ini menunjukkan persaingan penghimpunan dana dan monetisasi basis nasabah digital masih menjadi penopang utama pertumbuhan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pergerakan saham bank-bank berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia, kami mencatat mayoritas emiten big banks ditutup menguat meski IHSG melemah. Ulasan itu juga menyoroti tekanan pada BBCA serta kaitannya dengan pelemahan rupiah dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga global yang memengaruhi sentimen investor terhadap sektor perbankan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.