BEI siapkan pemeriksaan acak laporan free float emiten
Bursa Efek Indonesia memperketat pengawasan atas pelaporan kepemilikan saham publik dan data afiliasi oleh perusahaan tercatat di tengah agenda penguatan transparansi pasar modal. Langkah itu mencakup pemeriksaan acak setelah bursa kembali mengirim pengingat kepada seluruh emiten agar menyampaikan data secara benar dan terbuka.
Sorotan
- BEI akan melakukan pemeriksaan acak laporan free float dan data afiliasi emiten mulai 31 Oktober 2026, sanksi menanti yang melanggar.
- Pada pekan lalu, BEI mengirim pengingat ke seluruh perusahaan tercatat agar melaporkan free float dan struktur afiliasi secara benar dan transparan.
- Kebijakan ini memperketat transparansi pasar modal Indonesia dan melengkapi aturan sebelumnya seperti pembukaan data kepemilikan saham di atas 1 persen dan klasifikasi investor.
Rencana pemeriksaan dan ancaman sanksi
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan bursa segera melakukan pemeriksaan acak terhadap laporan free float dan data pihak terafiliasi yang disampaikan emiten. Pernyataan itu disampaikan dalam Capital Market Journalist Workshop Media Gathering 2026 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu, 31 Oktober 2026.Menurut Jeffrey, BEI pada pekan lalu kembali mengirim pengingat kepada seluruh perusahaan tercatat agar memenuhi kewajiban pelaporan secara benar dan transparan. Ia menegaskan bursa akan mengambil tindakan tegas terhadap direksi yang bertanggung jawab jika ditemukan laporan free float atau struktur afiliasi yang tidak akurat maupun menyesatkan.
Dampak bagi transparansi pasar modal
Pengetatan pengawasan laporan kepemilikan saham ini menjadi bagian dari agenda BEI untuk memperkuat transparansi di pasar modal Indonesia. Fokusnya adalah memastikan data yang diterima publik mencerminkan kondisi kepemilikan saham dan hubungan afiliasi emiten secara tepat.Kebijakan ini melengkapi rangkaian pembenahan yang sebelumnya sudah dijalankan bursa, termasuk pembukaan data kepemilikan saham di atas 1 persen, perincian klasifikasi investor menjadi 39 kategori, serta pengumuman saham dengan High Shareholding Concentration atau HSC. Bagi emiten, langkah tersebut menambah tekanan kepatuhan, sementara bagi investor, kebijakan ini berpotensi memperluas akses pada informasi yang lebih akurat untuk menilai struktur kepemilikan dan likuiditas saham.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan tajam IHSG pada kuartal III-2026, kami menyoroti bagaimana penurunan indeks menekan prospek bisnis perusahaan sekuritas melalui turunnya nilai dan frekuensi transaksi, melemahnya margin trading, serta risiko penundaan IPO dan penerbitan obligasi. Ulasan tersebut juga menekankan strategi bertahan seperti diversifikasi produk, penguatan edukasi investor, dan efisiensi platform untuk menjaga aktivitas di tengah volatilitas pasar.
Berita Reforms Terbaru
- Forex
- Crypto