Freeport Indonesia ramp up produksi Grasberg dimulai dalam beberapa minggu

Freeport Indonesia ramp up produksi Grasberg dimulai dalam beberapa minggu
Produksi Grasberg naik lagi

PT Freeport Indonesia menyatakan pemulihan area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave hampir rampung dan perusahaan menargetkan kenaikan kembali produksi dalam 2-3 minggu ke depan, menurut pernyataan Presiden Direktur Tony Wenas di Jakarta pada 21 Maret 2026. Langkah ini menjadi penting bagi operasi perusahaan setelah longsor sempat menghambat kegiatan di area tersebut. Manajemen kini memusatkan pekerjaan teknis pada production block 2 dan 3, sementara production block 1 baru diproyeksikan beroperasi pada 2027.

Sorotan

  • PTFI menargetkan produksi 1,1 miliar pound tembaga dan 800.000 troy ounces emas pada 2024, dengan ramp up Grasberg Block Cave dimulai beberapa minggu ke depan.
  • Production block 2 dan 3 di Grasberg dijadwalkan meningkatkan output dalam waktu dekat, sementara blok 1 baru beroperasi pada 2027 sesuai kesiapan teknis.
  • Biaya operasional penambangan bawah tanah dan pemulihan pascalongsor meningkat, sehingga keberhasilan percepatan ramp up Grasberg krusial bagi target produksi 2026.

Target produksi dan jadwal pemulihan 2026

PTFI menargetkan produksi 1,1 miliar pound tembaga dan 800.000 troy ounces emas pada tahun ini. Perusahaan menyebut proses ramp up di Grasberg Block Cave segera dimulai kembali setelah hambatan akibat longsor ditangani. Fokus operasional saat ini berada pada production block 2 dan 3, yang dijadwalkan mulai meningkatkan output dalam beberapa minggu mendatang.Untuk production block 1, perusahaan memproyeksikan operasi baru dimulai pada tahun depan, yakni 2027. Perbedaan jadwal ini menunjukkan pemulihan tambang dilakukan bertahap sesuai kesiapan teknis di masing-masing area. Strategi tersebut juga bertujuan menjaga kesinambungan produksi bawah tanah di salah satu aset utama Freeport Indonesia.

Biaya lebih tinggi dan tantangan teknis tambang bawah tanah

Tony Wenas mengatakan tantangan utama saat ini lebih banyak berasal dari aspek teknis di lapangan. Selain itu, perusahaan mengakui biaya operasi menjadi lebih mahal dalam proses penambangan bawah tanah dan pemulihan pascalongsor. Meski demikian, manajemen menyatakan pekerjaan penyelesaian kendala terus berjalan agar produksi dapat segera dimulai kembali.Bagi sektor pertambangan Indonesia, percepatan pemulihan Grasberg penting karena tambang ini merupakan sumber utama produksi tembaga dan emas nasional. Keberhasilan ramp up akan mendukung pasokan mineral dari Papua dan menjaga capaian target produksi tahunan perusahaan. Sebaliknya, jika hambatan teknis berlangsung lebih lama, tekanan terhadap biaya dan realisasi output dapat tetap membayangi kinerja operasional 2026.

Kami sebelumnya melaporkan penurunan tajam harga emas global (XAU) yang mencatat kerugian mingguan terberat dalam sekitar 43 tahun, dipicu penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil Treasury, serta arus keluar ETF. Dalam laporan tersebut, indikator teknikal digambarkan sangat bearish dan oversold, dengan perhatian pasar tertuju pada area dukungan kunci di sekitar SMA-200 dan risiko penurunan lanjutan jika level support ditembus.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.