AAUI nilai pertumbuhan asuransi properti tertahan pada 2026
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia menyatakan perlambatan pertumbuhan kredit pemilikan rumah dan kredit pemilikan apartemen pada awal 2026 menjadi faktor yang menahan laju bisnis asuransi properti, terutama untuk perlindungan aset residensial baru. Menurut keterangan Ketua Umum AAUI Budi Herawan kepada Kontan pada 4 April 2026, tekanan itu belum mengubah fondasi lini usaha ini karena portofolio masih ditopang aset komersial, industri, pergudangan, dan perpanjangan polis yang telah berjalan.
Sorotan
- Premi asuransi properti 2025 tumbuh 8,6% menjadi Rp 32,86 triliun dengan klaim sebesar Rp 8,57 triliun, menyumbang 28,9% dari premi asuransi umum.
- Perlambatan outstanding KPR Bank Indonesia per Januari 2026 tumbuh hanya 5,36% dibanding 6,84% pada Desember 2025, menahan pertumbuhan polis baru residensial.
- AAUI memfokuskan perluasan pasar ke sektor komersial, industri, dan logistik serta memperkuat kerja sama perbankan untuk menjaga pertumbuhan di tengah moderasi kredit.
Premi 2025 dan strategi menjaga pertumbuhan
AAUI mencatat premi asuransi properti mencapai Rp 32,86 triliun pada 2025, naik 8,6% dari Rp 30,27 triliun pada 2024. Nilai klaim yang dibayarkan dari lini ini sebesar Rp 8,57 triliun. Asuransi properti juga menyumbang 28,9% dari total premi asuransi umum 2025 yang mencapai Rp 113,60 triliun.
Budi menyatakan capaian tersebut menunjukkan asuransi properti masih menjadi salah satu penopang industri asuransi umum. Karena itu, AAUI memandang lini ini tetap memiliki fondasi kuat pada 2026 meski pembiayaan residensial melambat. Menurut dia, perlambatan KPR dan KPA lebih tepat dilihat sebagai penahan pertumbuhan, bukan tekanan menyeluruh terhadap kinerja.
Untuk menjaga kinerja, AAUI menyiapkan perluasan pasar di luar properti residensial yang bergantung pada pembiayaan. Sasaran utamanya meliputi sektor komersial, industri, logistik, dan pergudangan. Organisasi itu juga terus menekankan disiplin underwriting serta efisiensi layanan dan proses klaim agar pertumbuhan premi tetap terjaga tanpa menurunkan kualitas portofolio.
Dampak perlambatan kredit pada sektor asuransi
Ketergantungan sebagian bisnis asuransi properti pada pembiayaan perumahan membuat perlambatan kredit menjadi indikator penting bagi prospek 2026. Bank Indonesia mencatat outstanding KPR per Januari 2026 sebesar Rp 836,26 triliun, tumbuh 5,36% secara tahunan. Laju itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 6,84% pada Desember 2025.
Perlambatan tersebut berpotensi membatasi penambahan polis baru yang terkait pembelian rumah, apartemen, dan aset residensial lain. Namun, dampaknya tidak sepenuhnya langsung karena portofolio asuransi properti di Indonesia juga berasal dari perlindungan aset usaha dan pembaruan polis eksisting. Struktur ini memberi bantalan bagi industri ketika permintaan pembiayaan rumah melemah.
AAUI juga menempatkan penguatan kerja sama dengan perbankan, pengembang, dan ekosistem properti sebagai fokus pada tahun ini. Langkah itu diarahkan untuk menjaga arus bisnis baru sekaligus mempertahankan nasabah yang sudah ada. Dengan kombinasi diversifikasi pasar dan seleksi risiko yang ketat, industri berupaya mempertahankan pertumbuhan di tengah moderasi kredit perumahan.
Kami sebelumnya melaporkan bahwa penerapan PSAK 117 masih menjadi tantangan bagi industri asuransi umum pada 2026, terutama terkait kesiapan sistem, data, SDM, serta tekanan permodalan. Dalam laporan itu juga dibahas kewajiban penerapan penuh pada 2026 yang mendorong perusahaan mempercepat pembenahan operasional dan pelaporan agar tidak menekan kinerja lebih lanjut.
Berita Ageas Terbaru
- Forex
- Crypto