OJK nilai infrastruktur TI perbankan siap dukung universal banking di Indonesia
Otoritas Jasa Keuangan menyatakan dalam konferensi pers RDK pada Senin, 6 April 2026, kesiapan infrastruktur teknologi informasi perbankan nasional secara umum sudah memadai untuk menopang integrasi layanan dalam konsep universal banking. Menurut hasil asesmen pengawasan OJK, fondasi digital perbankan sudah terbentuk cukup kuat, terutama di kelompok bank besar, meski implementasinya tetap bergantung pada kewenangan dan kesiapan masing-masing bank.
Sorotan
- Survei OJK 2025 mencatat tingkat kematangan digital perbankan Indonesia pada kisaran 2–2,4 dari skala 5, didukung sistem cloud dan open API pada bank besar.
- OJK menyoroti kesenjangan infrastruktur TI antara bank besar dan kecil, mempengaruhi perizinan produk universal banking serta penekanan pada manajemen risiko dan ketahanan siber.
- Implementasi universal banking bergantung pada standardisasi, peningkatan interoperabilitas sistem, serta penguatan regulasi dan tata kelola data untuk mendukung kontribusi sektor keuangan nasional.
Kematangan digital bank dan prasyarat integrasi layanan
Survei implementasi TI OJK pada 2025 menunjukkan tingkat kematangan digital perbankan berada di kisaran 2 hingga 2,4 pada skala 1 sampai 5, yang dinilai masuk kategori memuaskan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan sejumlah bank besar sudah memiliki sistem inti yang andal, memanfaatkan teknologi berbasis cloud, serta mengembangkan open API untuk mendukung integrasi layanan keuangan. Infrastruktur tersebut dinilai relevan untuk menghubungkan layanan perbankan dengan asuransi, investasi, dan fintech dalam satu ekosistem yang lebih luas.
OJK juga menilai pemanfaatan analitik data dan kecerdasan buatan, termasuk untuk credit scoring, memperkuat kapasitas bank dalam membangun layanan terintegrasi. Meski demikian, regulator menegaskan pengembangan universal banking perlu dilakukan secara bertahap dan berbasis risiko. Kecepatan implementasi disebut akan disesuaikan dengan kesiapan sistem dan model bisnis masing-masing bank.
Kesenjangan kapasitas TI jadi perhatian perizinan
OJK mengakui belum semua bank, khususnya bank skala kecil dan menengah, memiliki kesiapan infrastruktur yang setara. Sebagian bank masih bergantung pada sistem legacy yang kurang fleksibel untuk integrasi layanan, sekaligus menghadapi keterbatasan investasi teknologi, termasuk pada keamanan siber dan tata kelola data. Perbedaan kapasitas ini menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan OJK dalam pemberian izin produk dan aktivitas terkait universal banking.
Regulator menilai integrasi layanan yang semakin luas juga meningkatkan eksposur risiko sistem dan serangan siber. Karena itu, OJK menekankan pentingnya penguatan manajemen risiko TI, ketahanan siber, dan perlindungan data sebagai fondasi transformasi digital perbankan. OJK menyatakan pendekatannya tetap menjaga keseimbangan antara dorongan inovasi dan stabilitas sistem keuangan.
Dorongan pendalaman sektor keuangan nasional
Ke depan, implementasi universal banking di Indonesia disebut sangat bergantung pada standardisasi serta peningkatan interoperabilitas sistem antarbank. OJK juga terus memperkuat kerangka regulasi yang mencakup tata kelola data, perlindungan konsumen, dan penggunaan teknologi seperti AI. Langkah itu diarahkan agar integrasi layanan keuangan berlangsung lebih aman dan konsisten di seluruh industri.
Menurut OJK, penerapan universal banking penting untuk memperbesar kontribusi sektor keuangan terhadap perekonomian nasional. Regulator menilai kontribusi tersebut saat ini masih relatif terbatas jika dilihat dari sejumlah indikator, termasuk rasio kredit terhadap produk domestik bruto. Dengan penguatan sistem keuangan, OJK berharap peran sektor keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi dapat meningkat.
Sebelumnya, kami melaporkan penguatan kanal digital yang kian menjadi penopang kinerja bank di Indonesia, seiring transaksi digital tumbuh dan mendorong fee-based income serta efisiensi operasional. Dalam laporan itu, kami juga menyoroti bagaimana kebutuhan layanan perbankan korporasi di ekosistem BUMN dan konsolidasi aset melalui Danantara dapat membuka peluang bisnis bagi bank dengan kapabilitas besar.
Berita Reporting Terbaru
- Forex
- Crypto