Saham bank besar Indonesia melemah, BBCA pimpin jual bersih asing
Menurut laporan KONTAN Indonesia pada Kamis, kelompok saham bank berkapitalisasi besar kembali ditutup di zona merah sepanjang sesi perdagangan, dengan tekanan jual asing terbesar terjadi pada PT Bank Central Asia Tbk. Pergerakan ini muncul di tengah pelemahan rupiah ke Rp 17.090 per dolar U.S. dan meningkatnya kehati-hatian investor asing terhadap aset domestik.
Sorotan
- BBCA memimpin penurunan dengan ditutup di Rp 6.475 atau turun 4,07%, mencatat net sell asing terbesar senilai Rp 611 miliar pada sesi ini.
- Depresiasi rupiah memicu tekanan jual lanjutan di saham bank besar, meningkatkan risiko kenaikan BI-Rate dan memperberat prospek pertumbuhan kredit serta rasio NPL.
- Sentimen negatif dari geopolitik Timur Tengah, isu MSCI, dan risiko makroekonomi membuat investor membatasi eksposur di sektor perbankan, menekan indeks saham domestik.
Pergerakan saham dan tekanan jual asing
BBCA mencatat penurunan terdalam di antara saham bank besar, ditutup pada Rp 6.475 atau melemah 4,07% dari penutupan sebelumnya. Saham PT Bank Mandiri Tbk turun 2,14% ke Rp 4.570, PT Bank Negara Indonesia Tbk melemah 1,85% ke Rp 3.710, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk terkoreksi 1,80% ke Rp 3.280. Keempat saham tersebut berada di zona merah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan. BBCA juga membukukan net sell asing terbesar, mencapai Rp 611 miliar pada hari itu.
Tekanan pada kelompok bank besar ini menandai berlanjutnya arus keluar dana asing dari sektor perbankan. Besarnya aksi jual pada BBCA menunjukkan saham dengan likuiditas tinggi masih menjadi sasaran utama penyesuaian portofolio investor luar negeri. Kondisi ini terjadi ketika pasar menilai ulang risiko nilai tukar dan prospek kebijakan moneter domestik.
Dampak pelemahan rupiah pada sektor perbankan
Analis Kiwoom Sekuritas Adrian Djie sebelumnya memproyeksikan saham bank besar masih berada dalam tekanan pada pekan ini. Ia menilai depresiasi rupiah menjadi sentimen krusial karena mendorong investor asing mengambil posisi wait and see. Menurut Adrian, jika pelemahan rupiah berlanjut, Bank Indonesia berpotensi mempertimbangkan kenaikan BI-Rate untuk menahan inflasi.
Langkah suku bunga yang lebih tinggi dapat membantu menjaga stabilitas makro, tetapi juga berisiko memperlambat pertumbuhan kredit perbankan. Selain itu, kenaikan biaya pinjaman dapat meningkatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan. Kombinasi faktor tersebut berpotensi menekan kinerja bank besar yang selama ini menjadi penopang utama kapitalisasi pasar sektor keuangan.
Sentimen eksternal dan risiko pasar pekan ini
Selain faktor kurs, Adrian menyebut ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi pergerakan saham bank besar. Pasar juga mencermati isu terkait MSCI dan lembaga pemeringkat, di samping tantangan makroekonomi yang lebih luas. Sentimen-sentimen ini membuat investor cenderung membatasi eksposur pada saham perbankan besar dalam jangka pendek.
Bagi pasar Indonesia, pelemahan serentak saham bank besar penting karena sektor ini memiliki bobot signifikan dalam indeks. Saat tekanan jual asing berlanjut, arah indeks saham domestik dapat tetap sensitif terhadap pergerakan rupiah, kebijakan BI, dan perkembangan risiko global. Dengan demikian, sektor perbankan masih menjadi fokus utama pelaku pasar dalam menilai stabilitas pasar modal nasional.
Kami sebelumnya melaporkan kenaikan rasio Loan at Risk (LaR) perbankan menjadi 9,24% per Februari 2026, di tengah perlambatan pertumbuhan kredit. Laporan tersebut menyoroti faktor pelemahan daya beli, tekanan likuiditas debitur, serta suku bunga yang relatif tinggi, sekaligus memaparkan strategi mitigasi risiko dan pencadangan dari bank-bank besar untuk menjaga kualitas aset sepanjang 2026.
Berita XAG/USD Terbaru
- Forex
- Crypto