Perbankan Indonesia hadapi kenaikan risiko kredit pada awal 2026
Data Otoritas Jasa Keuangan per Februari 2026 menunjukkan rasio Loan at Risk perbankan naik menjadi 9,24%, di tengah pertumbuhan penyaluran kredit yang melambat. Kenaikan ini menandakan bank masih menjaga kehati-hatian terhadap potensi kredit bermasalah, setelah rasio tersebut tercatat 8,77% pada Desember 2025 dan 9,01% pada Januari 2026. Dalam kondisi ini, pelaku industri melihat tekanan daya beli, likuiditas debitur, dan suku bunga yang masih relatif tinggi sebagai faktor utama yang membebani kualitas kredit.
Sorotan
- Kenaikan rasio LaR pada awal 2026 dipicu pelemahan daya beli, tekanan likuiditas debitur, dan biaya bunga tinggi, menekan segmen UMKM dan kredit konsumsi.
- CIMB Niaga mencatat rasio LaR stabil di 6% dan BTN menjaga coverage ratio 125%–140% dengan ekspansi kredit selektif serta penguatan underwriting.
- BCA mencatat pencadangan LaR sebesar 71,6% dan coverage NPL 183,8% pada 2025, menargetkan pertumbuhan kredit 8%–10% sepanjang 2026 dengan prinsip kehati-hatian.
Kenaikan LaR dan strategi mitigasi bank
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Trioksa Siahaan, menilai kenaikan LaR dipicu oleh pelemahan daya beli masyarakat, tekanan likuiditas debitur, serta biaya bunga yang masih tinggi. Ia menyebut segmen yang paling terdampak mencakup UMKM dan mikro, kredit konsumsi, serta perdagangan skala kecil. Menurutnya, perbaikan kondisi masih bergantung pada pemulihan daya beli dan situasi ekonomi pada semester II 2026.
Trioksa mengatakan perbankan perlu memperkuat mitigasi risiko melalui early warning system, restrukturisasi kredit yang proaktif, peningkatan penagihan, dan perbaikan kualitas portofolio pembiayaan. Langkah ini dinilai penting agar kenaikan tekanan risiko tidak berkembang menjadi pemburukan kualitas aset yang lebih luas. Di tengah perlambatan kredit, fokus industri tetap tertuju pada pengendalian risiko sambil menjaga pertumbuhan pembiayaan.
Bank besar menilai kualitas aset masih terjaga
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengatakan rasio LaR perseroan masih stabil di kisaran 6%. Meski demikian, bank tetap menjalankan langkah kehati-hatian dengan memantau kualitas aset secara lebih cermat. Sikap ini menunjukkan bank masih waspada terhadap perubahan kondisi debitur dalam beberapa bulan terakhir.
Direktur Risk Management Bank Tabungan Negara, Setiyo Wibowo, melihat tren LaR justru membaik secara bertahap seiring efektivitas penagihan dan normalisasi portofolio pascarestrukturisasi. BTN menargetkan coverage ratio tetap di kisaran 125% hingga 140%, dengan LaR yang terus ditekan menuju level yang lebih sehat. Untuk menjaga kualitas aset, BTN mengedepankan ekspansi kredit selektif, penguatan underwriting berbasis data, serta stress testing berkala.
Dampak bagi penyaluran kredit 2026
Bank Central Asia juga menyatakan ketahanan risiko tetap kuat, dengan rasio pencadangan LaR sebesar 71,6% pada 2025 dan coverage NPL di level 183,8%. BCA menyebut prinsip kehati-hatian tetap menjadi dasar penyaluran kredit, sambil menyesuaikan pembiayaan dengan kebutuhan debitur. Di saat yang sama, BCA menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 8% hingga 10% sepanjang 2026.
Perkembangan ini menunjukkan industri perbankan masih berupaya menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dan kualitas aset pada 2026. Kenaikan LaR per Februari menjadi sinyal bahwa risiko kredit belum sepenuhnya mereda, terutama pada segmen yang sensitif terhadap daya beli. Namun, tingkat pencadangan dan kebijakan underwriting yang lebih selektif memberi ruang bagi bank untuk menjaga stabilitas sektor keuangan.
Kami sebelumnya melaporkan bahwa OJK menilai perusahaan multifinance semakin selektif memilih debitur untuk menekan risiko gagal bayar di tengah dinamika ekonomi awal 2026. Dalam laporan tersebut, OJK mencatat piutang multifinance mencapai Rp 512,14 triliun per Februari 2026, sementara NPF gross naik ke 2,78% sehingga penguatan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian menjadi fokus agar kualitas aset tetap terjaga.
- Forex
- Crypto