Bank di Indonesia membatasi kredit valas saat rupiah melemah

Bank di Indonesia membatasi kredit valas saat rupiah melemah
Bank batasi kredit valas

Data Lembaga Penjamin Simpanan menunjukkan transaksi pasar uang antarbank valas overnight turun 14,01% secara bulanan pada Februari 2026 menjadi US$ 183,53 juta, di tengah rupiah yang ditutup di Rp 17.105 per dolar AS pada 13 April 2026. Penurunan itu mengindikasikan kebutuhan jangka pendek valas domestik masih dapat dipenuhi dari likuiditas internal perbankan. Kondisi tersebut mendorong bank menjaga cadangan likuiditas valas sambil merespons permintaan kredit yang tetap terbatas.

Sorotan

  • Permintaan kredit valas pada April 2026 tetap lemah akibat pelemahan rupiah, dengan perusahaan lebih memilih manajemen risiko pruden kecuali yang berpendapatan valas.
  • Per akhir 2025, kredit valas BCA tumbuh 14,9% menjadi Rp 49,9 triliun dan dana pihak ketiga valas naik 11,7% menjadi Rp 83,6 triliun, namun bank semakin berhati-hati akibat volatilitas kurs.
  • Industri perbankan memperketat seleksi pembiayaan valas karena volatilitas rupiah dan ketidakpastian global, dengan prospek pertumbuhan kredit valas lebih rendah dibanding rupiah.

Likuiditas valas dan permintaan pembiayaan pada April 2026

Pelemahan kurs membuat korporasi dan nasabah lain cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil pinjaman berdenominasi valuta asing. Menurut Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, permintaan kredit, baik korporasi maupun ritel, masih relatif lemah, termasuk kredit valas dalam situasi nilai tukar saat ini. Ia mengatakan korporasi memilih manajemen risiko yang lebih pruden, kecuali bagi debitur yang juga memiliki pendapatan dalam valas.

Lani menambahkan rasio kredit terhadap pendanaan atau loan to deposit ratio CIMB Niaga masih longgar di level 70%. Kondisi itu ditopang pertumbuhan dana pihak ketiga valas yang masih tumbuh dua digit ketika permintaan kredit melemah. Menurut dia, pertumbuhan simpanan valas juga mencerminkan nasabah belum ingin membelanjakan dananya untuk investasi.

Bank memperketat seleksi di tengah volatilitas rupiah

Bank Central Asia menyatakan terus memantau perkembangan nilai tukar dan berkomitmen menjaga posisi permodalan serta likuiditas valas yang solid. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan langkah itu diperlukan agar bank memiliki landasan bagi pertumbuhan kredit yang berkesinambungan dan berkualitas. Ia juga menegaskan porsi pembiayaan BCA masih didominasi rupiah, meski layanan valas tetap dijaga responsif dan aman untuk kebutuhan nasabah.

Hingga akhir 2025, kredit valas BCA masih tumbuh 14,9% secara tahunan menjadi Rp 49,9 triliun, sementara dana pihak ketiga valas naik 11,7% menjadi Rp 83,6 triliun. Namun, dinamika kurs yang fluktuatif membuat bank lebih berhati-hati dalam menjaga keseimbangan pembiayaan dan likuiditas. Fokus itu sejalan dengan kebutuhan industri perbankan untuk menekan risiko nilai tukar di tengah pelemahan rupiah.

Dampak bagi industri perbankan dan sektor riil

Direktur Utama KB Bank Kunardy Lie mengatakan bank kini lebih selektif menyalurkan kredit valas dan memprioritaskan nasabah dengan profil risiko kuat serta fundamental bisnis yang solid. Menurut dia, permintaan kredit valas masih terbatas karena dipengaruhi volatilitas rupiah, ketidakpastian ekonomi global, dan kecenderungan korporasi memilih pembiayaan berbasis rupiah. Ia menambahkan penyesuaian batas transaksi valas dan penguatan aturan pelaporan devisa juga ikut membentuk kehati-hatian pasar.

Secara umum, Kunardy memproyeksikan pertumbuhan kredit valas tetap lebih rendah dibanding kredit rupiah. Prospek itu mencerminkan permintaan pembiayaan dari sektor riil yang belum masif dan upaya korporasi untuk mengurangi eksposur terhadap risiko kurs. Bagi perbankan nasional, situasi ini berarti pertumbuhan bisnis valas masih tertahan meski likuiditas internal relatif memadai.

Kami sebelumnya melaporkan pertumbuhan simpanan valuta asing CIMB Niaga hingga Februari 2026 yang meningkat sekitar 16% secara tahunan, melampaui simpanan rupiah. Artikel itu juga menyoroti tren industri ketika nilai simpanan valas dan jumlah rekening valas sama-sama naik, seiring dorongan diversifikasi aset dan kemudahan pembukaan rekening melalui layanan digital.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.