BNI terbitkan AT1 luar negeri, outlook negatif Indonesia menekan rating surat utang bank
Prospek negatif pada surat utang negara Indonesia menahan peringkat surat utang bank-bank domestik yang diterbitkan di pasar luar negeri. Kondisi ini terlihat saat BNI melakukan buyback AT1 lama dan menerbitkan instrumen baru yang kemudian memperoleh rating lebih rendah dari profil kredit dasarnya.
Sorotan
- BNI melakukan buyback AT1 yang diterbitkan 2021 sambil menawarkan AT1 baru bagi investor asing yang dicatatkan di Singapore Exchange pada 14 April 2026.
- Moody’s memberikan rating Ba3 (hyb) untuk AT1 BNI, tiga tingkat di bawah baa3 BCA, akibat karakteristik risiko tinggi dan outlook negatif surat utang pemerintah.
- Imbal hasil AT1 BNI akan naik karena rating rendah menuntut cost of fund lebih tinggi, meski Himbara tetap dinilai mampu penuhi kewajiban dan rating domestik stabil.
Penerbitan AT1 dan dampak penilaian kredit
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, pada Selasa 14 April 2026 Bank Negara Indonesia (BNI) melakukan buyback surat utang Additional Tier 1 (AT1) yang diterbitkan pada 2021 melalui tender offer, sambil menawarkan AT1 baru kepada investor asing dan mencatatkannya di Singapore Exchange.
Dalam rangkaian aksi itu, Moody’s Rating memberi AT1 milik BNI rating Ba3 (hyb), atau tiga tingkat di bawah Baseline Credit Assessment (BCA) perseroan yang kini berada di level baa3. Moody’s menjelaskan instrumen AT1 memiliki karakteristik penyerap kerugian seperti modal dan dapat dihapus nilainya saat krisis, sehingga risikonya lebih tinggi dan wajar jika peringkatnya berada di bawah peringkat BCA bank.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan penetapan rating yang relatif rendah untuk surat utang bank-bank besar sulit dihindari karena surat utang Pemerintah Indonesia juga masih membawa outlook negatif sejak awal tahun ini. Menurut dia, konsekuensi dari rating tersebut adalah BNI harus menawarkan imbal hasil lebih tinggi kepada investor, yang pada akhirnya mendorong kenaikan biaya dana atau cost of fund.
Implikasi bagi Himbara dan pasar pendanaan
Ramdhan menilai kenaikan cost of fund menjadi konsekuensi yang harus diambil bank untuk memenuhi kebutuhan dana melalui penerbitan surat utang. Meski demikian, ia menekankan secara historis BNI dan bank-bank milik negara yang tergabung dalam Himbara tidak memiliki catatan masalah dalam pemenuhan kewajiban pembayaran, sehingga ruang perbaikan rating lebih banyak bergantung pada pemulihan rating surat utang pemerintah.
Pandangan serupa disampaikan Head of Financial Institutions Rating Division Pefindo Danan Dito, yang menyebut prospek Himbara selama ini tetap stabil. Di pasar domestik, bank-bank pelat merah masih termasuk yang memiliki peringkat paling kuat karena dinilai tahan terhadap tekanan makro dan industri, sehingga Pefindo tidak mengubah rating maupun outlook surat utang Himbara setelah pemangkasan rating oleh Moody’s.
Dito menambahkan ketahanan itu juga tercermin dari kemampuan perbankan melewati berbagai krisis masa lalu, termasuk periode Covid-19, ketika masyarakat justru melihat penempatan dana di bank sebagai safe haven. Dengan tantangan eksternal yang masih tinggi, kekuatan profil kredit Himbara tetap menjadi penopang utama akses pendanaan mereka.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang rencana BNI menerbitkan AT1 baru dan melakukan tender offer AT1 2021, BBNI menyampaikan langkah ini ditujukan untuk memperkuat rasio permodalan sekaligus menata struktur modal agar mendukung ekspansi. Kami juga mengulas jadwal partisipasi tender offer pada 14–22 April 2026 dengan rencana settlement 24 April 2026, serta rencana pencatatan AT1 baru di Singapore Exchange yang bergantung pada kondisi pasar.
Berita Quotex Terbaru
- Forex
- Crypto