Allo Bank perkuat likuiditas 2026 lewat DPK dan dana murah

Allo Bank perkuat likuiditas 2026 lewat DPK dan dana murah
Allo Bank kuatkan likuiditas

Di awal 2026, PT Allo Bank Indonesia Tbk menyatakan kondisi likuiditasnya tetap terjaga sehat di tengah pasar yang masih belum menentu. Bank digital itu mulai menggeser strategi pendanaan dari andalan bunga simpanan kompetitif menuju peningkatan porsi dana murah melalui transaksi harian dan integrasi ekosistem.

Sorotan

  • Allo Bank menargetkan penguatan likuiditas 2026 dengan mengoptimalkan DPK dan memperbesar porsi dana murah (CASA) melalui transaksi digital dan ekosistem.
  • LDR Allo Bank per Mei 2026 tercatat 102,86%, turun signifikan dari 123,91% pada Februari 2026, menunjukkan likuiditas yang lebih sehat meski masih di atas batas regulator.
  • Perubahan strategi pendanaan ke arah CASA dinilai dapat menekan biaya dana dan meningkatkan ketahanan likuiditas tanpa hanya mengandalkan bunga tinggi.

Strategi pendanaan dan penyaluran kredit 2026

Seperti diberitakan KONTAN Indonesia, Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan salah satu langkah utama perseroan adalah mengoptimalkan penghimpunan dana pihak ketiga secara konsisten. Sejalan dengan tahun sebelumnya, Allo Bank masih menawarkan suku bunga simpanan yang kompetitif karena dinilai tetap menjadi instrumen strategis untuk menjaga pertumbuhan DPK dan memperkuat stabilitas likuiditas.

Meski demikian, perseroan mulai mengubah arah strategi penghimpunan dana. Ke depan, fokus bank adalah meningkatkan porsi dana murah atau CASA melalui penguatan transaksi harian, QRIS, pembayaran digital, dan integrasi ekosistem.

Allo Bank juga membuka opsi sumber pendanaan lain sesuai peluang yang tersedia, termasuk kerja sama dengan perseroan lain maupun lewat instrumen pasar. Di sisi aset, bank ini tetap lebih selektif menyalurkan kredit pada awal tahun karena ketidakpastian ekonomi membuat konsumen dan pelaku usaha lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi.

Dampak terhadap profil likuiditas bank digital

Destya menyebut hingga saat ini DPK Allo Bank tercatat Rp 8,4 triliun, sementara kredit yang disalurkan mencapai Rp 8,64 triliun. Dengan posisi itu, rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio, LDR, berada di 102,86%.

Rasio tersebut turun jauh dibanding Februari 2026 ketika LDR Allo Bank masih tercatat 123,91%. Meski angka itu masih berada di atas batas sehat regulator yang ditetapkan di bawah 92%, perseroan menilai kondisi likuiditas pada 2026 semakin sehat dan lebih kuat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Perubahan komposisi pendanaan ke arah CASA dapat menjadi langkah penting bagi bank digital untuk menekan biaya dana sekaligus memperbaiki ketahanan likuiditas. Strategi ini juga menunjukkan bahwa pertumbuhan simpanan tidak lagi hanya ditopang oleh bunga tinggi, tetapi mulai diarahkan ke aktivitas transaksi dan keterikatan nasabah di dalam ekosistem digital.

Program tabungan Simpeda yang dijalankan Bank Pembangunan Daerah (BPD) kami soroti sebagai motor penghimpunan dana pihak ketiga sekaligus penguat loyalitas nasabah, dengan pertumbuhan dana tabungan 12% (setara Rp2,2 triliun) dari 2024 ke 2025 dan basis penabung lebih dari 8,9 juta hingga akhir 2025. Skema tabungan terintegrasi antar-BPD ini juga dinilai membantu memperkuat dana murah dan menopang fungsi intermediasi serta likuiditas bank daerah melalui peningkatan transaksi dan keterikatan nasabah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.