Bank-bank di Indonesia perluas bisnis payroll untuk menekan biaya dana

Bank-bank di Indonesia perluas bisnis payroll untuk menekan biaya dana
Bank perluas bisnis payroll

Persaingan menghimpun dana murah mendorong perbankan di Indonesia terus mengandalkan layanan payroll pada kuartal I-2026. Strategi ini dipakai untuk memperkuat pertumbuhan tabungan dan giro di tengah gejolak ekonomi serta tren biaya dana yang tetap menjadi perhatian industri.

Sorotan

  • BCA mencatat jumlah perusahaan pengguna layanan Payroll BCA naik 10% pada kuartal I-2026 dibandingkan periode sama tahun lalu, menopang pertumbuhan dana murah.
  • BTN mempertahankan bisnis payroll positif di sektor kesehatan, properti, pendidikan, instansi pemerintah, dan horeca, tetap menjadi sumber dana murah stabil dari nasabah korporasi.
  • BPD DIY membukukan kenaikan bisnis payroll 6% yoy dengan pengelolaan payroll total Rp225,3 miliar untuk ASN, swasta, dan pensiunan pada Maret 2026; tabungan payroll mencakup 60,5% dari total DPK Rp13,7 triliun.

Pertumbuhan payroll pada kuartal I-2026

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, sejumlah bank mencatat pertumbuhan positif pada bisnis payroll sepanjang kuartal I-2026, seiring upaya menjaga CASA dan menurunkan cost of fund. Layanan ini dijalankan lewat kerja sama bank dengan perusahaan untuk mengelola pembayaran gaji karyawan, yang kemudian menjadi sumber penghimpunan dana tabungan dan giro.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan jumlah perusahaan yang menggunakan layanan Payroll BCA pada kuartal I-2026 bertambah hingga 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Heryn mengatakan bisnis payroll masih menjadi penopang pertumbuhan dana pihak ketiga, khususnya dana murah, dan BCA menargetkan tren itu tetap positif pada tahun ini.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga menyebut bisnis payroll tetap terjaga positif. Direktur Network & Retail Funding BTN Rully Setiawan mengatakan layanan payroll masih menjadi sumber dana murah yang stabil, dengan fokus pada sektor kesehatan, properti, pendidikan, instansi pemerintah, serta horeca, yang banyak berasal dari nasabah korporasi BTN.

Dampak pada penghimpunan dana murah daerah

Bank Pembangunan Daerah juga masih menumpukan penghimpunan dana murah pada bisnis payroll, terutama dari aparatur sipil negara di wilayah masing-masing. Salah satu yang mencatat pertumbuhan adalah BPD Daerah Istimewa Yogyakarta, yang membukukan kenaikan bisnis payroll sebesar 6% secara tahunan per Maret 2026.

Direktur Pemasaran dan Unit Usaha Syariah BPD DIY, Raden Agus Trimurjanto, mengatakan bank itu mengelola payroll untuk 6.032 nasabah ASN per Maret 2026 dengan nominal penyaluran Rp27,3 miliar. BPD DIY juga mengelola gaji 11.976 nasabah swasta senilai Rp37,4 miliar dan 46.092 nasabah pensiunan dengan nominal Rp160,6 miliar.

Menurut Agus, dana pihak ketiga dari payroll, khususnya tabungan, cukup menopang penghimpunan DPK bank. Per Maret 2026, komposisi tabungan mencapai 60,5% dari total DPK BPD DIY sebesar Rp13,7 triliun, menunjukkan bisnis payroll tetap menjadi salah satu penyangga likuiditas yang penting bagi bank di tengah persaingan dana murah.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang kinerja bank-bank besar pada kuartal I-2026, kami menyoroti kenaikan laba, kredit, dan dana pihak ketiga yang tetap kuat meski ada tekanan global seperti pelemahan rupiah dan kenaikan yield obligasi. Fokus pendanaan juga mengarah pada penguatan dana murah (CASA) untuk menjaga efisiensi biaya dana dan likuiditas, seiring proyeksi pertumbuhan kredit dan DPK industri yang masih solid sepanjang 2026.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.