Kredit properti Indonesia tumbuh lebih cepat pada Maret 2026, KPR melambat
Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia terus menguat pada Maret 2026, dengan segmen properti mencatat akselerasi lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Di tengah kenaikan itu, kredit pemilikan rumah dan apartemen justru melambat, sejalan dengan pelemahan yang masih terlihat pada kredit konsumsi.
Sorotan
- Kredit properti Indonesia tumbuh 17,5% yoy menjadi Rp 1.677,6 triliun pada Maret 2026, naik dari 13,7% bulan sebelumnya.
- Kredit konstruksi melonjak 47,2% yoy ke Rp 570,6 triliun dan kredit real estate naik 12,9% ke Rp 264,3 triliun pada Maret 2026.
- Pertumbuhan KPR dan kredit pemilikan apartemen melambat ke 4,5% yoy menjadi Rp 842,7 triliun, menandakan permintaan hunian tetap lemah.
Akselerasi kredit properti pada Maret 2026
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, data Bank Indonesia menunjukkan kredit perbankan tumbuh 9,49% secara tahunan pada Maret 2026, naik dari 9,37% pada Februari 2026. Dalam laporan analisis uang beredar BI, kredit properti tumbuh 17,5% secara tahunan menjadi Rp 1.677,6 triliun, lebih tinggi dari pertumbuhan 13,7% pada bulan sebelumnya.Nilai kredit properti itu setara 18,96% dari total kredit industri pada periode tersebut. Dari sisi segmen, kredit konstruksi tumbuh 47,2% secara tahunan menjadi Rp 570,6 triliun, meningkat dari laju 33,6% pada Februari 2026, sedangkan kredit real estate tumbuh 12,9% menjadi Rp 264,3 triliun, lebih tinggi dari 10,6% pada bulan sebelumnya.
Berbeda dengan dua segmen tersebut, KPR dan kredit pemilikan apartemen tumbuh 4,5% secara tahunan menjadi Rp 842,7 triliun. Laju ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5% pada Februari 2026, menandakan permintaan pembiayaan hunian tetap lebih lemah dibandingkan kredit properti lainnya.
Tekanan masih terlihat di kredit konsumsi
Perlambatan KPR berlangsung sejalan dengan pola pada kredit konsumsi, yang menjadi satu-satunya kelompok penggunaan kredit yang melambat pada Maret 2026. Kredit investasi tumbuh 20,85% secara tahunan setelah pada bulan sebelumnya tumbuh 20,72%, sementara kredit modal kerja naik 4,38% dari sebelumnya 3,38%.Di sisi lain, kredit konsumsi hanya tumbuh 5,88% secara tahunan, turun dari 6,34% pada Februari 2026. Selain KPR, kredit multiguna juga melambat menjadi 8,3% dari 8,7%, sedangkan kredit kendaraan bermotor mencatat koreksi yang lebih dalam sebesar 9,2% pada Maret 2026 setelah sebelumnya terkoreksi 8,1%.
Kondisi ini menunjukkan penguatan penyaluran kredit masih terutama ditopang oleh pembiayaan produktif dan aktivitas properti yang terkait konstruksi serta real estate. Bagi sektor perbankan dan properti Indonesia, komposisi ini menandakan pemulihan pembiayaan belum merata pada sisi konsumsi rumah tangga.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang perlambatan kredit konsumsi pada Maret 2026, kami mencatat bahwa meski kredit perbankan secara keseluruhan masih tumbuh, laju pinjaman konsumsi melemah dibandingkan bulan sebelumnya. Kami juga menyoroti bahwa penguatan kredit lebih banyak ditopang segmen produktif seperti kredit investasi dan modal kerja, seiring bank yang makin selektif dalam menjaga kualitas aset dan mengelola risiko.
Berita Land Prime Terbaru
- Forex
- Crypto