OJK menilai perbankan Indonesia tetap solid di tengah risiko geopolitik global

OJK menilai perbankan Indonesia tetap solid di tengah risiko geopolitik global
Perbankan tetap solid OJK

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, Otoritas Jasa Keuangan menyatakan industri perbankan nasional tetap berada dalam kondisi kuat dan tidak melihat potensi bank rush dalam waktu dekat. Per Februari 2026, ketahanan modal, kualitas kredit, dan likuiditas bank dinilai masih terjaga pada level yang mendukung stabilitas sistem keuangan.

Sorotan

  • OJK menyatakan dampak konflik Timur Tengah terhadap perbankan Indonesia terbatas, eksposur ke kawasan tersebut kecil dan tidak signifikan terhadap permodalan atau likuiditas.
  • Per Februari 2026, rasio kecukupan modal bank Indonesia 25,83% dan rasio kredit bermasalah 2,17%, menandakan fundamental industri tetap sangat kuat.
  • Likuiditas terjaga dengan LDR 84,72% dan LCR 195,64%, sementara OJK terus memperketat pengawasan melalui stress test dan pemantauan risiko berkelanjutan.

Ketahanan perbankan dan paparan risiko global

KONTAN melaporkan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan dampak langsung konflik di Timur Tengah terhadap perbankan Indonesia relatif terbatas karena eksposur bank domestik ke kawasan tersebut masih kecil, baik dari sisi aset maupun kewajiban. Ia menegaskan pengaruh langsung gejolak itu tidak signifikan terhadap permodalan maupun likuiditas perbankan.

Meski begitu, Indonesia sebagai negara dengan sistem ekonomi terbuka tetap rentan terhadap dampak tidak langsung dari gejolak global, terutama melalui jalur perdagangan dan pasar keuangan. Karena itu, otoritas terus mencermati transmisi risiko eksternal terhadap sektor perbankan domestik.

Dari sisi fundamental, OJK menilai ketahanan industri masih sangat kuat. Per Februari 2026, rasio kecukupan modal atau CAR tercatat 25,83%, sementara rasio kredit bermasalah atau NPL berada di level 2,17%, masih di bawah ambang batas 3%.

Likuiditas terjaga dan pengawasan diperketat

Likuiditas perbankan juga disebut memadai, dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga dan alat likuid terhadap non-core deposit berada di atas ambang masing-masing 10% dan 50%. Loan to Deposit Ratio tercatat 84,72%, masih dalam kisaran ideal 78% hingga 92%, sedangkan Liquidity Coverage Ratio mencapai 195,64%, jauh di atas ketentuan minimum.

Dian menyatakan potensi bank rush sangat kecil, bahkan nyaris tidak ada, karena kondisi politik, keamanan, dan ekonomi domestik dinilai kondusif. Menurutnya, kepercayaan masyarakat tetap menjadi faktor utama yang perlu dijaga melalui kinerja bank yang baik dan penerapan manajemen risiko yang memadai.

Untuk menjaga stabilitas, OJK terus melakukan pengawasan intensif melalui pemantauan risiko berkelanjutan dan penguatan pengawasan individual bank. OJK juga rutin menjalankan stress test, dan hasilnya menunjukkan permodalan bank masih cukup kuat untuk menyerap potensi risiko dari gejolak makroekonomi, sambil tetap bersinergi dengan otoritas lain dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang hasil stress test perbankan di tengah ketidakpastian ekonomi, kami menyoroti bahwa uji ketahanan Bank Indonesia menunjukkan sektor perbankan tetap solid meski risiko meningkat pada sejumlah portofolio. Sejumlah bank besar seperti BCA dan CIMB Niaga melaporkan permodalan dan likuiditas yang kuat, sambil memperketat selektivitas penyaluran kredit serta memperkuat pemantauan untuk mengantisipasi skenario terburuk.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.