Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada Maret 2026 menunjukkan nilai ekspor mencapai USD22,53 miliar di tengah pelemahan pada komponen migas dan nonmigas secara bulanan. Secara tahunan, capaian itu masih mencatat pertumbuhan 3,10%, sementara total ekspor kumulatif Januari hingga Maret 2026 naik tipis 0,34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sorotan
- Nilai ekspor Indonesia pada Maret 2026 mencapai USD22,53 miliar, tumbuh 3,10% year-on-year namun turun akibat melemahnya ekspor nonmigas bulanan.
- Ekspor nonmigas Maret 2026 terkoreksi 2,52% menjadi USD21,25 miliar, didorong penurunan 27,02% pada komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati.
- Total ekspor kumulatif Januari-Maret 2026 mencapai USD66,85 miliar, naik 0,34% year-on-year dengan ekspor nonmigas tumbuh 0,98% namun migas turun 10,58%.
Rincian kinerja ekspor Maret 2026
Berdasarkan paparan Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia pada Maret 2026 mencapai USD22,53 miliar dengan pertumbuhan 3,10% secara tahunan. Dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa penurunan nilai ekspor bulanan didorong oleh melemahnya ekspor nonmigas.Ekspor migas tercatat sebesar USD1,28 miliar atau turun 11,84%. Pada saat yang sama, ekspor nonmigas terkoreksi 2,52% dengan nilai total USD21,25 miliar.
Ateng menyatakan penurunan ekspor nonmigas terutama berasal dari komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati yang turun 27,02% dengan andil penurunan 3,52%. Data ini menunjukkan tekanan pada komoditas utama masih memengaruhi laju ekspor bulanan Indonesia.
Perkembangan kumulatif dan dampak perdagangan
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, total ekspor kumulatif Indonesia mencapai USD66,85 miliar. Nilai tersebut meningkat 0,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan pertumbuhan yang masih terbatas pada awal tahun.Dalam periode itu, ekspor migas mencapai USD3,25 miliar atau turun 10,58%, sedangkan ekspor nonmigas justru tumbuh 0,98% menjadi USD63,65 miliar. Perbedaan kinerja ini menandakan penopang utama ekspor nasional masih berasal dari sektor nonmigas, sementara pelemahan migas tetap menjadi faktor penahan bagi pertumbuhan ekspor secara keseluruhan.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang tantangan kemandirian industri migas Indonesia, kami menyoroti tingginya ketergantungan pada impor peralatan strategis serta keterbatasan penguasaan teknologi yang menekan daya saing. Artikel itu juga menekankan urgensi memperkuat manufaktur penunjang seperti pipa seamless ber-TKDN dan mendorong transformasi dari sekadar pasar menjadi produsen serta pemilik teknologi untuk memperkuat rantai pasok energi.
Berita Natural Gas Terbaru
- Forex
- Crypto