DBS Indonesia proyeksikan tabungan valas tumbuh di atas 10% di tengah tekanan rupiah
Di tengah pelemahan rupiah yang masih dipengaruhi dinamika global, simpanan valuta asing perbankan di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan hingga Maret 2026. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan diversifikasi aset, terutama dari nasabah affluent, meski mayoritas dana nasabah masih ditempatkan dalam tabungan rupiah.
Sorotan
- Data Bank Indonesia mencatat simpanan valas perbankan tumbuh 8,6% YoY menjadi Rp 2.338,6 triliun per Maret 2026, dengan tabungan naik 24,4% YoY ke Rp 242,9 triliun.
- Bank DBS Indonesia memproyeksikan saldo tabungan valas tumbuh lebih dari 10% hingga akhir 2026, didorong meningkatnya pemahaman nasabah terhadap produk valas.
- Permintaan tabungan valas terus meningkat terutama di segmen affluent, dipicu tekanan rupiah dan ketersediaan produk valas seperti INDON AUD dan INDON CNH.
Pertumbuhan simpanan valas dan proyeksi DBS
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, data Bank Indonesia menunjukkan simpanan valas perbankan tumbuh 8,6% secara tahunan menjadi Rp 2.338,6 triliun per Maret 2026. Dari komponen simpanan tersebut, tabungan mencatat pertumbuhan tertinggi, naik 24,4% YoY menjadi Rp 242,9 triliun.Tren yang sama terlihat di Bank DBS Indonesia. Head of Segmentation & Liabilities Consumer Banking Group DBS Indonesia, Natalina Syabana, mengatakan dana pihak ketiga perseroan tumbuh double digit pada kuartal I-2026, sementara sekitar 80% nasabah masih menempatkan dana pada tabungan rupiah sebagai cerminan kepercayaan terhadap mata uang domestik.
Menurut DBS Indonesia, tabungan valas saat ini lebih banyak digunakan sebagai instrumen pelengkap dalam strategi keuangan nasabah. Bank itu memproyeksikan saldo tabungan valas tumbuh lebih dari 10% hingga akhir 2026, seiring meningkatnya pemahaman nasabah terhadap produk berbasis valas di pasar.
Dorongan diversifikasi dan dampaknya bagi pasar
Permintaan terhadap tabungan valas diperkirakan terus meningkat selama rupiah masih berada di bawah tekanan eksternal. Segmen affluent menjadi salah satu pendorong utama karena kelompok ini membutuhkan diversifikasi portofolio untuk mengelola risiko nilai tukar.Selain pelemahan rupiah, ragam produk berbasis valas yang semakin luas juga menjadi katalis tambahan. Di antaranya adalah instrumen Surat Berharga Negara berdenominasi mata uang asing seperti INDON AUD, atau Kangaroo Bond, dan INDON CNH, atau Dim Sum Bond, yang memberi alternatif pengelolaan aset bagi nasabah perbankan.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang penurunan kepemilikan investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN), kami menyoroti susutnya porsi nonresiden hingga akhir April 2026 dan tantangan menjaga daya tarik imbal hasil obligasi rupiah. Kami juga mencatat peran Bank Indonesia dalam menstabilkan rupiah dan likuiditas, termasuk meningkatnya aliran dana asing ke SRBI yang mencerminkan preferensi investasi jangka pendek di tengah ketidakpastian kurs dan risiko fiskal.
Berita TRADE.com Terbaru
- Forex
- Crypto