OJK catat kredit perbankan tumbuh 9,49% pada kuartal I-2026

OJK catat kredit perbankan tumbuh 9,49% pada kuartal I-2026
Kredit Bank Tumbuh 9,49%

Pertumbuhan kredit perbankan pada akhir kuartal I-2026 menguat seiring perbaikan bertahap pada kualitas aset industri. Hingga Maret 2026, penyaluran kredit mencapai Rp 8.659 triliun, sementara kredit UMKM kembali tumbuh positif setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya.

Sorotan

  • OJK mencatat kredit perbankan tumbuh 9,49% yoy pada Maret 2026, dipimpin kredit investasi 20,85% dan kredit UMKM rebound 0,12% yoy.
  • Dana pihak ketiga perbankan naik 13,55% yoy menjadi Rp 10.231 triliun per Januari 2026, dan rasio alat likuid terhadap non-core deposit membaik ke 122,55%.
  • Rasio NPL gross turun ke 2,14% dari 2,17%, OJK menargetkan pertumbuhan kredit 10–12% dan DPK 7–9% sepanjang 2026.

Rincian pertumbuhan kredit dan likuiditas

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan mencatat kredit industri perbankan tumbuh 9,49% secara tahunan pada Maret 2026, lebih baik dibandingkan pertumbuhan 9,37% yoy pada Februari 2026.

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi masih mencatatkan laju tertinggi dengan pertumbuhan 20,85% yoy, naik dari 20,72% yoy pada bulan sebelumnya. Kredit modal kerja tumbuh 4,38% yoy, membaik dari 3,88% yoy, sedangkan kredit konsumsi tumbuh 5,88% yoy, melambat dari 6,34% yoy.

Kredit sektor usaha mikro, kecil, dan menengah juga menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan 0,12% yoy. Angka ini membalikkan kontraksi 0,56% yoy pada bulan sebelumnya.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga perbankan hingga Januari 2026 tumbuh 13,55% yoy menjadi Rp 10.231 triliun. Likuiditas bank juga tetap terjaga, tercermin dari rasio alat likuid terhadap non-core deposit yang naik menjadi 122,55% dari 121,29%, serta rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga di level 27,85%.

Profil risiko dan target industri perbankan

Dari sisi kepemilikan bank, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan kredit bank BUMN masih mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 13,66% yoy. Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner bulanan pada Selasa, 5 Mei 2026.

Profil risiko industri juga mulai membaik. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan gross turun menjadi 2,14% dari 2,17% pada bulan sebelumnya, sementara NPL net stabil di 0,83%.

Tahun ini, OJK menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 10% sampai 12% dan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 7% sampai 9%. Perkembangan pada kuartal pertama menunjukkan industri perbankan masih menjaga ekspansi pembiayaan sambil mempertahankan kualitas kredit dan likuiditas.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah di BNI, kami mengulas bagaimana tambahan SAL hingga Rp 68 triliun per Maret 2026 memperkuat likuiditas sekaligus mendorong lonjakan DPK pada kuartal I-2026. Kami juga menyoroti langkah konservatif BNI yang membangun bantalan likuiditas melalui peningkatan penempatan di Bank Indonesia untuk mengantisipasi risiko penarikan dana SAL yang bisa terjadi cepat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.