Perbankan dorong ekspansi BNPL saat baki debet Maret 2026 naik 24,2%
Pertumbuhan layanan buy now pay later atau BNPL kian menjadi salah satu jalur ekspansi kredit bank di tengah gejolak ekonomi dan permintaan pembiayaan konsumsi yang tetap berjalan. Hingga Maret 2026, baki debet BNPL bank mencapai Rp 28,3 triliun dan jumlah rekening penggunanya naik menjadi 30,81 juta nasabah.
Sorotan
- Data OJK menunjukkan baki debet BNPL bank naik 24,2% secara tahunan menjadi Rp 28,3 triliun per Maret 2026 dengan 30,81 juta nasabah.
- Ekosistem superapp perbankan dan preferensi Gen Z/milenial dorong adopsi BNPL dengan menawarkan akses lebih cepat dan fleksibel dibanding kredit konvensional.
- Bank potensial tingkatkan pendapatan dari margin tinggi BNPL dan cross-selling, namun risiko NPL meningkat karena sifat kredit tanpa agunan dan konsumsi berisiko.
Pertumbuhan BNPL dan pendorong adopsi nasabah
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, data Otoritas Jasa Keuangan, OJK, menunjukkan baki debet BNPL bank pada Maret 2026 tumbuh 24,2% secara tahunan menjadi Rp 28,3 triliun. OJK juga mencatat jumlah rekening pengguna BNPL bank mencapai 30,81 juta nasabah hingga Maret 2026, naik dari 30,55 juta nasabah pada Februari 2026.Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai pertumbuhan itu mencerminkan makin luasnya adopsi masyarakat terhadap layanan BNPL perbankan. Menurut dia, salah satu pendorong utama berasal dari ekosistem superapp perbankan yang memasuki fase lebih matang, sehingga fitur BNPL dapat diakses cepat dan mengurangi hambatan psikologis maupun administratif yang biasanya muncul pada kartu kredit konvensional.
Ia juga melihat karakter BNPL yang sesuai dengan transaksi konsumsi harian sejalan dengan preferensi Gen Z dan milenial. Kelompok ini cenderung menginginkan fleksibilitas untuk nominal kecil yang tidak selalu terakomodasi oleh skema kredit konvensional.
Risiko kualitas aset dan peluang pendapatan bank
Rahma menilai bank memiliki ruang untuk mengembangkan BNPL lebih agresif dibanding perusahaan fintech karena biaya dana bank lebih rendah. Kondisi itu dinilai memberi ruang bagi bank untuk menawarkan bunga yang lebih kompetitif, sekaligus memosisikan paylater sebagai alat pengelolaan arus kas yang terasa lebih mudah diterima oleh nasabah.Ke depan, ia memandang potensi pertumbuhan BNPL bank masih besar karena produk ini umumnya menawarkan margin yang cukup tinggi ketika penyaluran kredit konvensional lebih sulit diserap pasar. BNPL juga dapat menjadi pintu masuk cross-selling untuk produk pinjaman lain seperti kredit pemilikan rumah, KPR, dan kredit kendaraan bermotor, KKB.
Namun, ia mengingatkan bahwa BNPL pada dasarnya merupakan kredit tanpa agunan yang dapat meningkatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan, NPL, perbankan. Jika pertumbuhan terutama ditopang oleh nasabah yang memakai paylater untuk kebutuhan konsumtif tanpa kenaikan pendapatan yang sepadan, bank berisiko menumpuk kerentanan pada neraca mereka.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja industri multifinance per Maret 2026, kami mengulas bagaimana sejumlah pelaku seperti PT Mandiri Utama Finance (MUF) masih membukukan pertumbuhan piutang pembiayaan dan aset, sambil menjaga rasio pembiayaan bermasalah tetap di bawah rata-rata industri. Kami juga menyoroti bahwa di tengah perlambatan pertumbuhan piutang dan kenaikan NPF gross multifinance, strategi ekspansi yang selektif serta penguatan manajemen risiko menjadi kunci untuk menjaga kualitas portofolio.
Berita Fintech Terbaru
- Forex
- Crypto