Bank di Indonesia perkuat dana murah untuk jaga margin bunga

Bank di Indonesia perkuat dana murah untuk jaga margin bunga
Bank jaga margin bunga

Margin bunga bersih perbankan di Indonesia masih tertekan di tengah gejolak ekonomi global dan tingginya ketergantungan pada deposito. Data OJK menunjukkan rata-rata net interest margin bank pada Maret 2026 turun menjadi 4,38% dari 4,51% pada Maret 2025, mendorong bank meningkatkan porsi dana murah atau CASA.

Sorotan

  • Bank di Indonesia meningkatkan porsi CASA untuk menekan biaya dana dan menjaga net interest margin di tengah tekanan margin yang berlanjut.
  • BRI mencatat rasio NIM 7,7% dan porsi CASA 68% dari DPK Rp 1.555 triliun per Maret 2026, menurunkan biaya dana menjadi 2,3%.
  • Bank dengan fokus ritel dan UMKM mempertahankan margin lebih stabil karena nasabah kurang sensitif pada kenaikan bunga sehingga spread bunga terjaga.

Tekanan margin dan strategi pendanaan

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, bank perlu memperbesar porsi tabungan dan giro untuk menekan biaya dana saat tekanan terhadap margin keuntungan belum mereda. Ketergantungan pada deposito dinilai membuat bank lebih rentan terhadap kenaikan suku bunga global karena biaya bunga dapat meningkat lebih cepat.

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengatakan bank yang masih bergantung pada dana mahal akan lebih sulit menjaga postur bisnisnya dalam situasi ekonomi global saat ini. Menurut dia, penguatan CASA menjadi langkah penting untuk mempertahankan net interest margin tetap tinggi.

Rahma juga menilai bank yang berfokus pada segmen ritel dan UMKM memiliki posisi yang lebih kuat karena tidak terlalu terdampak fluktuasi ekonomi global. Selain memiliki biaya dana yang lebih stabil, segmen ini juga memberi ruang bagi bank untuk mempertahankan imbal hasil kredit yang lebih tinggi dibanding segmen korporasi.

Dampak pada bank ritel dan pasar domestik

BRI menjadi contoh bank dengan struktur pendanaan yang mendukung margin lebih kuat. Pada Maret 2026, bank tersebut mencatat rasio NIM 7,7% dengan porsi CASA mencapai 68% dari total dana pihak ketiga sebesar Rp 1.555 triliun.

Berkat komposisi pendanaan itu, biaya dana BRI turun menjadi 2,3%. Rahma menyebut bank dengan ekosistem ritel yang kuat cenderung tetap menerima aliran dana murah dari masyarakat, sehingga ongkos pendanaan lebih terjaga.

Ia menambahkan nasabah ritel umumnya tidak terlalu sensitif terhadap kenaikan bunga kredit, berbeda dengan nasabah korporasi yang memiliki ruang tawar lebih besar. Kondisi ini memungkinkan bank menjaga spread bunga dan menopang margin keuntungan di tengah tekanan global.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penguatan saham bank-bank besar di tengah pergerakan IHSG yang terbatas, kami mengulas kenaikan mingguan BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI yang banyak ditopang technical rebound serta momentum pembagian dividen. Ulasan itu juga menyoroti bahwa ruang kenaikan masih sangat bergantung pada sentimen pasar, sambil mengingatkan adanya risiko domestik seperti kekhawatiran pembiayaan program pemerintah dan strategi buy on weakness pada saham yang dinilai menarik secara valuasi seperti BBNI.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.