Bank KBMI 1 mencatat pendorong laba yang beragam pada kuartal I-2026

Bank KBMI 1 mencatat pendorong laba yang beragam pada kuartal I-2026
Pertumbuhan laba bank bervariasi

Kinerja bank-bank KBMI 1 pada kuartal I-2026 menunjukkan sumber pertumbuhan laba yang tidak seragam, di tengah ketidakpastian global dan tantangan likuiditas industri. Sejumlah bank masih mencetak kenaikan laba lewat pemulihan kredit, fee based income, dan efisiensi operasional, sementara lainnya tertekan oleh basis pendapatan yang tinggi dan kenaikan beban pencadangan.

Sorotan

  • PT Bank Ina Perdana Tbk membukukan pertumbuhan laba bersih 268,73% yoy menjadi Rp 52,98 miliar per Maret 2026, didorong recovery loan dan kenaikan CASA 71,93% yoy.
  • Laba PT Bank Raya Indonesia Tbk turun 59,87% yoy menjadi Rp 6,79 miliar, tertekan penurunan keuntungan revaluasi aset keuangan dan kenaikan beban impairment 29,09% yoy.
  • PT Bank Oke Indonesia Tbk mencatat lonjakan laba 112,54% yoy menjadi Rp 64,67 miliar pada kuartal I-2026, didukung pertumbuhan kredit 7,44% dan pendapatan operasional.

Pendorong kinerja berbeda di awal 2026

KONTAN Indonesia melaporkan, PT Bank Ina Perdana Tbk menjadi salah satu bank KBMI 1 yang berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih 268,73% secara tahunan menjadi Rp 52,98 miliar per Maret 2026. Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih 8,73% yoy menjadi Rp 172,53 miliar, pertumbuhan kredit 10,36% yoy menjadi Rp 14,78 triliun, serta lonjakan dana murah atau CASA 71,93% yoy menjadi Rp 10,03 triliun.

Namun, pendorong utama laba Bank Ina berasal dari pendapatan pemulihan kredit. Hal itu tercermin dari keuntungan penjualan aset keuangan yang naik menjadi Rp 5,25 miliar dari Rp 680 juta pada tahun sebelumnya. Direktur Keuangan Bank Ina Kiung Hui Ngo mengatakan hasil triwulan pertama tahun ini terutama datang dari recovery loan, meski pendapatan komisi dari produk dan layanan juga meningkat. Bank tetap optimistis menjaga intermediasi dengan menyasar sektor usaha yang dinilai prospektif dan memanfaatkan ekosistem Grup Salim.

PT Bank Raya Indonesia Tbk mencatat arah yang berbeda. Laba bersih bank turun 59,87% yoy menjadi Rp 6,79 miliar per Maret 2026, meski pendapatan bunga bersih naik 19,91% yoy menjadi Rp 195,83 miliar dan kredit digital tumbuh 29% yoy menjadi Rp 8,14 triliun.

Penurunan laba Bank Raya dipengaruhi oleh turunnya keuntungan dari peningkatan nilai wajar aset keuangan, dari Rp 6,06 miliar pada tahun lalu menjadi Rp 711 juta tahun ini, serta kenaikan beban impairment 29,09% yoy menjadi Rp 49,14 miliar. Direktur Utama Bank Raya Ide Bagus Ketut Subagia mengatakan perseroan mengandalkan inovasi digital dan penguatan sinergi ekosistem untuk membuka peluang pertumbuhan baru, termasuk melalui program penghargaan nasabah dan optimalisasi fitur QRIS.

Dampak strategi kredit pada profitabilitas bank

PT Bank Neo Commerce Tbk juga mencatatkan pelemahan laba yang sejalan dengan penurunan bisnis inti. Laba bersih BNC turun 14,36% yoy menjadi Rp 136,98 miliar, pendapatan bunga bersih menyusut 11,19% yoy menjadi Rp 548,13 miliar, dan kredit turun 17,24% yoy menjadi Rp 8,49 triliun.

Direktur Utama BNC Eri Budiono mengatakan bank kini menjaga penyaluran kredit agar lebih berkualitas di tengah ketidakpastian yang tinggi, dengan rasio kredit bermasalah tetap rendah di level 0,43%. BNC berfokus mendorong kredit digital ritel secara hati-hati, memperkuat ekosistem digital, dan menyiapkan peluncuran produk buy now pay later untuk memperluas akses pembiayaan.

Sementara itu, PT Bank Oke Indonesia Tbk atau OK Bank mencatat pertumbuhan laba yang kuat berkat kenaikan kredit dan pendapatan operasional. Pada kuartal I-2026, laba bank melonjak 112,54% yoy menjadi Rp 64,67 miliar, sejalan dengan pertumbuhan pendapatan bunga bersih 22,86% yoy menjadi Rp 200,41 miliar dan kredit 7,44% yoy menjadi Rp 10,48 triliun.

Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi OK Bank juga naik tajam menjadi Rp 6,2 miliar dari Rp 414 juta pada tahun sebelumnya. Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengatakan bank tetap berhati-hati menghadapi volatilitas nilai tukar, suku bunga yang relatif tinggi, dan perlambatan di sejumlah sektor usaha, dengan fokus pada kualitas aset, likuiditas, pertumbuhan kredit selektif, penguatan pendanaan, efisiensi, dan kesinambungan profitabilitas.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang strategi penyaluran kredit Bank Ina pada 2026, kami mengulas langkah perseroan menjaga basis korporasi sembari memperluas fokus ke segmen ritel konsumsi. Kami juga mencatat kredit konsumsi menjadi motor pertumbuhan terbesar, serta pemanfaatan ekosistem Grup Salim untuk ekspansi pembiayaan UKM dan rantai pasok guna memperluas basis debitur dan menopang pertumbuhan yang selektif.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.