PT Tugu Reasuransi Indonesia membukukan pembayaran klaim reasuransi sebesar Rp415 miliar pada kuartal I-2026, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terjadi seiring perbaikan rasio klaim perseroan pada Maret 2026 dan memberi ruang bagi hasil underwriting yang tetap positif pada awal tahun.
Sorotan
- Tugu Reasuransi Indonesia membukukan pembayaran klaim reasuransi kuartal I-2026 sekitar 90% dari capaian kuartal I-2025 atau turun dari kisaran Rp460 miliar.
- Loss ratio per Maret 2026 membaik menjadi 58,18%, turun dari 58,72% pada Maret 2025, menunjukkan profitabilitas underwriting tetap terjaga.
- Perseroan memfokuskan strategi 2026 pada penguatan kualitas underwriting, optimalisasi portofolio, dan ekspansi selektif dengan fokus evaluasi risiko dan profitabilitas.
Kinerja klaim dan rasio underwriting
Kepada KONTAN, Presiden Direktur PT Tugu Reasuransi Indonesia Teguh Budiman mengatakan realisasi pembayaran klaim reasuransi pada kuartal I-2026 mencapai sekitar 90% dari capaian kuartal I-2025. Ia menyebut tren klaim reasuransi pada awal 2026 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika nilai klaim berada di kisaran Rp460 miliar.Kontributor terbesar terhadap pembayaran klaim hingga kuartal I-2026 berasal dari segmen harta benda, kredit dan penjaminan, jiwa, rekayasa, serta rangka kapal. Di sisi lain, perseroan juga mencatat perbaikan loss ratio menjadi 58,18% per Maret 2026, turun dari 58,72% pada Maret 2025.
Menurut Teguh, level loss ratio di bawah 60% masih tergolong sangat baik dan terkendali untuk industri reasuransi. Kondisi itu menunjukkan perusahaan mampu menjaga klaim tetap lebih rendah dibandingkan premi yang diperoleh, sehingga hasil underwriting masih positif dan margin teknis tetap sehat.
Strategi menjaga profitabilitas
Teguh menilai performa underwriting perusahaan pada awal 2026 menunjukkan tren perbaikan positif, meski perkembangannya tetap perlu dipantau sepanjang tahun agar profitabilitas terjaga. Fokus perseroan hingga akhir tahun diarahkan pada penguatan kualitas underwriting, optimalisasi portofolio, dan peningkatan kolaborasi dengan mitra domestik.Tugure juga tetap membuka peluang ekspansi secara selektif di pasar domestik maupun regional. Langkah itu ditempuh dengan mempertimbangkan profil risiko dan potensi profitabilitas secara hati-hati di tengah kebutuhan menjaga kualitas bisnis reasuransi.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang dampak pelemahan rupiah terhadap industri reasuransi, kami membahas dorongan agar perusahaan memperkuat Asset Liability Matching (ALM) untuk menekan eksposur valuta asing. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban klaim dan cadangan teknis untuk polis berdenominasi valas, berisiko menekan solvabilitas, sehingga mitigasi kurs dan penyesuaian strategi reasuransi menjadi krusial.
Berita Banks Terbaru
- Forex
- Crypto