Simpanan kelas menengah bawah di Indonesia melambat seiring tekanan daya beli

Simpanan kelas menengah bawah di Indonesia melambat seiring tekanan daya beli
Simpanan menengah bawah melambat

Tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi masih membebani rumah tangga berpendapatan menengah bawah pada awal 2026, tercermin dari perlambatan pertumbuhan tabungan mereka. Data per Maret 2026 menunjukkan laju simpanan nasabah dengan saldo di bawah Rp 100 juta turun tajam dibandingkan bulan sebelumnya dan periode yang sama tahun lalu.

Sorotan

  • Simpanan nasabah dengan saldo di bawah Rp 100 juta hanya tumbuh 1,8% YoY per Maret 2026, melambat dari 4,4% pada Februari dan 6,8% Maret 2025 menurut LPS.
  • Kepala Indef memperkirakan tekanan terhadap simpanan kelas menengah masih berlanjut sepanjang 2026 jika pelemahan rupiah, suku bunga tinggi, dan harga pokok tak stabil.
  • Bank Mandiri dan BTN memproyeksikan pertumbuhan simpanan masyarakat tetap positif pada 2026, didukung digitalisasi layanan, stabilisasi inflasi, dan aktivitas ekonomi domestik yang membaik.

Data LPS dan tekanan konsumsi rumah tangga

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan simpanan nasabah dengan saldo di bawah Rp 100 juta per Maret 2026 hanya tumbuh 1,8% secara tahunan, melambat dari 4,4% pada Februari 2026 dan 6,8% pada Maret 2025.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai perlambatan itu mencerminkan daya beli masyarakat yang masih tertekan. Menurut dia, sebagian rumah tangga masih memakai tabungan untuk menopang konsumsi sehari-hari akibat kenaikan biaya hidup, pelemahan rupiah, tekanan harga pangan, cicilan, dan ketidakpastian pendapatan.

Rizal mengatakan fenomena makan tabungan masih terjadi terutama pada kelompok yang pertumbuhan pendapatannya tidak secepat kenaikan pengeluaran. Ia memperkirakan tekanan terhadap kelas menengah masih berlanjut sepanjang 2026 bila rupiah terus melemah, suku bunga tetap tinggi, dan harga kebutuhan pokok belum stabil.

Meski begitu, peluang perbaikan tetap terbuka jika pemerintah mampu menjaga inflasi pangan, memperkuat penciptaan lapangan kerja, dan mendorong sektor produktif agar pendapatan masyarakat meningkat kembali. Ia juga menilai perbankan perlu menyesuaikan strategi, tidak hanya mengejar pertumbuhan dana murah, tetapi juga menjaga loyalitas serta kesehatan finansial nasabah melalui produk tabungan yang fleksibel, bunga kompetitif, digitalisasi layanan, dan edukasi keuangan.

Respons bank dan prospek penghimpunan dana

Di sisi industri, Head of Deposit Product Management PT Bank Mandiri Tbk, Mega Ekaputri Pujianto, mengakui simpanan segmen menengah bawah pada awal 2026 masih menghadapi tantangan sejalan dengan tren industri. Hingga Maret 2026, simpanan ritel di segmen tersebut masih tumbuh di atas 3% secara tahunan, meski melambat dibandingkan periode sebelumnya.

Menurut Mega, sebagian masyarakat masih menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global. Namun Bank Mandiri mulai melihat perbaikan aktivitas transaksi nasabah dan arus kas di sejumlah sektor, sehingga tetap optimistis penghimpunan dana membaik bertahap.

Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan simpanan masyarakat masih positif di kisaran 8% hingga 10% sampai akhir 2026, didukung stabilisasi inflasi, membaiknya aktivitas ekonomi domestik, dan penguatan konsumsi. Untuk mendorong tabungan, bank itu memperkuat ekosistem digital melalui Livin’ by Mandiri, memperluas akuisisi nasabah payroll dan UMKM, serta menghadirkan program loyalitas dan fitur pengelolaan keuangan.

Sementara itu, Direktur Network and Retail Funding PT Bank Tabungan Negara Tbk, Rully Setiawan, mengatakan tren simpanan kelas menengah mulai menunjukkan perbaikan meski belum merinci angkanya. Ia menyebut fenomena makan tabungan masih ada pada sebagian kelompok, tetapi tekanannya berkurang, sementara sentimen nasabah tetap hati-hati dan mulai kembali menabung secara bertahap.

BTN memperkirakan pertumbuhan simpanan masyarakat pada 2026 bergerak stabil dengan kenaikan terbatas. Bank tersebut menilai risiko tekanan terhadap tabungan tetap ada bila terjadi gejolak harga, namun ketahanan keuangan rumah tangga mulai membaik dibandingkan tahun lalu, didukung penguatan layanan digital banking, perluasan ekosistem tabungan berbasis perumahan dan payroll, serta program literasi dan inklusi keuangan.

Pergerakan harga pangan acuan di Jakarta pada 19 Mei 2026 menunjukkan volatilitas pada komoditas strategis, dengan kenaikan pada bawang merah dan beberapa jenis beras, sementara sebagian cabai justru turun. Dalam liputan kami sebelumnya, kami menekankan bahwa perubahan harga yang tidak merata ini perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi inflasi pangan dan beban belanja rumah tangga.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.