Perbankan Indonesia hadapi perlambatan kredit setelah BI Rate naik ke 5,25%

Perbankan Indonesia hadapi perlambatan kredit setelah BI Rate naik ke 5,25%
Perlambatan kredit perbankan

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ke level 5,25% diperkirakan menahan laju intermediasi perbankan sepanjang 2026 di tengah biaya dana yang meningkat. Di saat yang sama, bank besar dengan basis dana murah yang kuat dinilai lebih mampu menjaga margin, sementara bank kecil menghadapi tekanan profitabilitas dan risiko kredit yang lebih besar.

Sorotan

  • Kenaikan BI Rate ke 5,25% berpotensi mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga hingga 14,2% di 2026, meski kredit hanya tumbuh sekitar 8,94%.
  • Rasio kredit bermasalah (non performing loan) diperkirakan naik ke kisaran 2,52% setelah suku bunga acuan meningkat, dengan bank KBMI 3 dan KBMI 4 tetap menjadi penggerak utama.
  • Target pertumbuhan kredit perbankan 11%-13% dinilai masih realistis, namun peluang mencapai batas atas makin berat usai BI Rate naik.

Dampak pada pendanaan, kualitas aset, dan sektor prioritas

Di sisi lain, Global Markets Economist Myrdal Gunarto melihat kenaikan BI Rate justru berpotensi mendorong bisnis pendanaan perbankan. Menurutnya, masyarakat cenderung menempatkan dana di bank karena dinilai lebih aman di tengah gejolak pasar keuangan, terlebih bunga simpanan juga meningkat.

Myrdal memperkirakan pertumbuhan dana pihak ketiga tahun ini dapat mencapai 14,2% seiring aliran dana ke instrumen perbankan. Meski demikian, dari sisi penyaluran kredit ia memproyeksikan pertumbuhan hanya sekitar 8,94%, dengan bank-bank besar, terutama kelompok KBMI 4 dan KBMI 3, tetap menjadi motor utama sepanjang 2026.

Ia juga memperkirakan rasio kredit bermasalah atau non performing loan berpotensi naik ke kisaran 2,52% setelah kenaikan suku bunga acuan. Sementara itu, Rizal menilai penopang utama pertumbuhan kredit masih berasal dari bank-bank BUMN dan sektor prioritas seperti hilirisasi, pangan, energi, serta proyek strategis nasional.

Menurut Rizal, target pertumbuhan kredit industri perbankan di kisaran 11%-13% masih realistis, meski peluang mencapai batas atas makin berat setelah BI Rate naik. Ia menambahkan perbankan perlu tetap selektif, tetapi juga ekspansif pada sektor produktif dan padat karya agar perlambatan kredit tidak berujung pada pelemahan investasi, konsumsi, dan penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan data Bank Indonesia, pada April 2026 suku bunga kredit tercatat 8,73%, turun dari 8,76% pada bulan sebelumnya, sedangkan suku bunga deposito satu bulan berada di level 4,16%, turun dari 4,19% pada Maret 2026.

Dalam liputan kami sebelumnya tentang pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada April 2026, kami mencatat kredit tumbuh 9,98% (yoy) dengan penopang utama dari kredit investasi, sementara likuiditas dinilai memadai dan ketahanan perbankan tetap kuat di tengah ketidakpastian global. Artikel tersebut juga menyoroti indikator kunci seperti undisbursed loan, rasio alat likuid terhadap DPK, CAR, serta NPL yang masih terjaga, dengan proyeksi BI bahwa pertumbuhan kredit 2026 berada di kisaran 8%–12%.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.