BI Rate 5,25% berisiko menaikkan bunga kredit perbankan dan menahan ekspansi usaha
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ke level 5,25% dinilai menambah tekanan pada biaya pinjaman di perbankan, terutama untuk kredit baru dan kredit berjalan dengan bunga mengambang. Kondisi ini juga berpotensi membatasi pertumbuhan kredit yang sebelumnya diharapkan mencapai dua digit, di tengah pelemahan rupiah dan tekanan eksternal dari harga minyak dunia.
Sorotan
- BI Rate 5,25% membuat bunga kredit perbankan berpotensi naik dan membatasi ekspansi bisnis meski ada insentif makroprudensial.
- BI Rate diprediksi bertahan di 5,25% jika rupiah Rp 17.400–Rp 17.799 per dolar U.S., tetapi bisa naik jika rupiah melemah menembus Rp 17.800.
- Harga minyak global di atas U.S.$128 per barel berisiko mendorong pelemahan rupiah hingga di atas Rp 18.000 per dolar U.S. dan menaikkan BI Rate.
Skenario suku bunga dan dampak ke kredit
Seperti dilaporkan KONTAN, ekonom Global Markets Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan kenaikan BI Rate langsung memengaruhi ongkos bunga dalam sistem keuangan, sehingga ruang ekspansi bisnis menjadi lebih terbatas meski ada insentif makroprudensial dan keterbukaan suku bunga dasar kredit.Ia menilai dampak paling terlihat muncul pada penyaluran kredit perbankan. Jika rupiah bertahan di atas Rp 17.500 per dolar U.S. dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi dinilai sulit bergerak agresif, termasuk target pertumbuhan kredit yang sebelumnya diharapkan bisa menembus level dua digit.
Myrdal memaparkan tiga skenario arah BI Rate yang bergantung pada pergerakan rupiah. BI Rate diperkirakan bertahan di 5,25% jika rupiah berada di kisaran Rp 17.400 hingga Rp 17.799 per dolar U.S., tetapi peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka bila rupiah menembus Rp 17.800 untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan ekspektasi pasar.
Di sisi lain, peluang penurunan BI Rate baru terbuka jika rupiah menguat ke sekitar Rp 17.000 per dolar U.S., yang dapat membawa suku bunga acuan ke 5%. Jika rupiah menguat ke Rp 16.750, BI Rate berpotensi turun ke 4,75%, sedangkan penguatan ke kisaran Rp 16.300 hingga Rp 16.400 dapat membuka ruang penurunan hingga 4,5%.
Tekanan eksternal dan implikasi bagi ekonomi domestik
Myrdal menilai inflasi domestik saat ini relatif terkendali selama harga bahan bakar minyak dan energi tetap dijaga stabil. Namun, ia menegaskan faktor eksternal, terutama harga minyak dunia, masih menjadi variabel penting yang menekan pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.Saat harga minyak berada di atas U.S.$108 per barel, tekanan terhadap rupiah masih bertahan. Jika harga minyak turun ke kisaran U.S.$70 hingga U.S.$80 per barel, risiko global dinilai mereda dan rupiah berpotensi menguat kembali, sehingga membuka peluang penurunan BI Rate.
Sebaliknya, bila harga minyak naik di atas U.S.$128 per barel dalam jangka panjang, tekanan terhadap rupiah dinilai akan meningkat dan dapat mendorong kenaikan BI Rate lebih lanjut. Dalam skenario itu, nilai tukar rupiah juga berisiko melemah hingga menembus Rp 18.000 per dolar U.S., yang menambah beban bagi sektor keuangan dan aktivitas usaha di dalam negeri.
Dalam liputan kami sebelumnya tentang dampak kenaikan BI Rate ke 5,25% terhadap perbankan, kami menyoroti bahwa biaya dana yang meningkat berpotensi menahan laju intermediasi dan membuat pertumbuhan kredit 2026 lebih moderat. Artikel tersebut juga mencatat bank besar dengan basis dana murah dinilai lebih mampu menjaga margin, sementara risiko kenaikan NPL dan tekanan profitabilitas lebih terasa pada bank yang lebih kecil.
- Forex
- Crypto