Bank Permata menilai sinergi pemerintah, BI, dan OJK kunci stabilitas ekonomi Indonesia

Bank Permata menilai sinergi pemerintah, BI, dan OJK kunci stabilitas ekonomi Indonesia
Sinergi Kunci Stabilitas

Di tengah kontraksi ekonomi global dan tekanan pada nilai tukar rupiah, sejumlah indikator menunjukkan ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat dan tetap menopang keyakinan pelaku usaha serta investor. Penilaian ini menempatkan koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan pengawasan sektor keuangan sebagai faktor penting untuk menjaga stabilitas di tengah volatilitas pasar dan perlambatan ekonomi dunia.

Sorotan

  • Ekonom Bank Permata Josua Pardede menegaskan sinergi Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan OJK menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.
  • Meski terdapat tekanan global, konsumsi rumah tangga dan pemerintah tetap tumbuh, inflasi terkendali, sektor perbankan sehat, serta APBN masih efektif sebagai instrumen stabilisasi.
  • Aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara tetap positif, mencerminkan kepercayaan investor global pada prospek ekonomi Indonesia meskipun terjadi pelemahan rupiah akibat faktor eksternal.

Koordinasi kebijakan di tengah tekanan global

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai kondisi ekonomi saat ini merupakan fase penyesuaian terhadap dinamika global, bukan sinyal krisis. Dalam Komunita Economic Talk bertajuk Membaca Tantangan dan Peluang Ekonomi Indonesia Saat Ini, ia mengatakan masyarakat tidak perlu merespons perkembangan ekonomi dengan kekhawatiran berlebihan karena fondasi ekonomi nasional tetap terjaga.

Menurut Josua, sinergi antarlembaga menjadi elemen utama agar masyarakat dan investor tetap memandang positif prospek ekonomi nasional. Kementerian Keuangan berperan menjaga kesehatan fiskal dan APBN, Bank Indonesia bertanggung jawab pada stabilitas nilai tukar serta kebijakan suku bunga, sedangkan OJK bersama Bursa Efek Indonesia menjaga stabilitas sektor jasa keuangan dan pasar modal.

Ia menambahkan berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah dan regulator menunjukkan setiap lembaga terus menjalankan fungsinya di tengah tekanan eksternal. Aktivitas konsumsi masyarakat masih tumbuh, inflasi berada dalam rentang terkendali, sektor perbankan tetap sehat, dan APBN masih berfungsi sebagai instrumen stabilisasi ekonomi.

Dampak bagi kepercayaan investor dan ekonomi domestik

Josua menilai ekonomi Indonesia masih kokoh karena pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada pada level relatif tinggi dan inflasi masih terjaga, sehingga mendukung stabilitas daya beli masyarakat. Konsumsi rumah tangga, yang menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, juga masih menunjukkan pertumbuhan solid, sementara peningkatan konsumsi pemerintah pada awal tahun memberi dukungan tambahan bagi aktivitas ekonomi domestik.

Dari sisi pasar keuangan, aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara masih mencatatkan kinerja positif. Kondisi itu, menurutnya, mencerminkan bahwa investor tetap menaruh kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia meski ketidakpastian global meningkat.

Menanggapi kekhawatiran atas pelemahan rupiah, ia menilai tekanan tersebut lebih banyak dipicu faktor eksternal, termasuk penguatan dolar U.S. akibat tingginya suku bunga di negara maju dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Ia juga menepis anggapan bahwa Indonesia sedang menuju krisis seperti pada 1998, dengan menekankan bahwa kondisi perbankan, likuiditas, cadangan devisa, dan pengelolaan fiskal saat ini jauh lebih kuat.

Di sisi domestik, Josua mengakui sebagian masyarakat masih merasakan tekanan keuangan, tetapi ia melihat fenomena itu lebih sebagai perubahan pola konsumsi daripada penurunan daya beli secara menyeluruh. Ia juga menilai program prioritas pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, perlu dievaluasi secara berkala namun tidak tepat diukur hanya dari hasil jangka pendek karena manfaat strukturalnya baru terlihat dalam jangka menengah hingga panjang.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah yang menekan nilai tukar hingga Rp18.046 per dolar, kami menyoroti penilaian OJK bahwa stabilitas perbankan tetap terjaga di tengah volatilitas global. OJK mencatat CAR per April 2026 berada di 23,97% dan posisi devisa neto bank konsisten jauh di bawah ambang 20% modal, meski risiko lanjutan seperti kenaikan beban utang valas korporasi tetap dicermati.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.