Harga Pertamax di Pulau Tidung naik, margin sopir bentor tertekan
Kenaikan harga Pertamax di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, mendorong biaya operasional angkutan bentor mendekati bahkan melampaui tarif perjalanan pendek. Setelah harga mencapai Rp 21.000 per liter pada Rabu, 10 Juni 2026, pengemudi menilai pendapatan mereka makin tipis di tengah kunjungan wisatawan hari biasa yang belum ramai.
Sorotan
- Harga Pertamax di Pulau Tidung naik menjadi Rp 21.000 per liter sejak 10 Juni 2026, menekan margin sopir bentor.
- Pendapatan sopir bentor turun signifikan karena tarif perjalanan Rp 20.000–Rp 25.000 hampir sama dengan biaya bensin per perjalanan.
- Kenaikan harga BBM memperburuk margin usaha di tengah sepinya wisatawan harian, membatasi penyesuaian tarif dan memperbesar beban operasional transportasi lokal.
Tekanan biaya usai penyesuaian harga
Seperti dilaporkan Kompas.com, harga BBM jenis Pertamax di Pulau Tidung mencapai Rp 21.000 per liter setelah penyesuaian harga oleh PT Pertamina pada Rabu, 10 Juni 2026. Level harga itu dikeluhkan pengemudi becak motor karena hampir setara dengan tarif sekali perjalanan yang berkisar Rp 20.000 hingga Rp 25.000.Muhammad Said, sopir bentor berusia 63 tahun, mengatakan kenaikan harga bensin membuat keuntungan per perjalanan semakin menipis. Menurut dia, saat harga masih berada di kisaran Rp 16.000 hingga Rp 17.000 per liter, pengemudi masih bisa menyisakan margin dari tarif perjalanan Rp 20.000, sedangkan kondisi sekarang membuat mereka harus menambah biaya dari kantong sendiri untuk sebagian perjalanan pendek.
Keluhan serupa disampaikan pengemudi lain, Sahib, yang menilai tarif perjalanan pendek Rp 20.000 tidak lagi sebanding dengan biaya bahan bakar. Ia juga menyebut pengemudi sulit menaikkan tarif kepada penumpang meski ongkos operasional meningkat.
Dampak pada mobilitas lokal dan pendapatan
Kenaikan harga ini terjadi ketika arus wisatawan ke Pulau Tidung pada hari biasa masih sepi, sehingga pendapatan pengemudi lebih banyak bergantung pada kunjungan akhir pekan. Kondisi itu mempersempit ruang penyesuaian bagi pelaku transportasi lokal yang mengandalkan volume penumpang untuk menutup biaya harian.Bagi pengemudi bentor di kawasan wisata kepulauan, struktur tarif yang relatif tetap membuat lonjakan harga BBM langsung memukul margin usaha. Para pengemudi berharap harga Pertamax di Pulau Tidung dapat kembali terkendali agar beban operasional tidak terus menekan pendapatan sektor transportasi informal setempat.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang penyesuaian harga Pertamax per 10 Juni 2026, kami membahas kenaikan Pertamax di DKI Jakarta dan sekitarnya menjadi Rp16.250 per liter serta desakan DPR agar pemerintah dan Pertamina memaparkan secara terbuka mekanisme penetapan harga. Kami juga menyoroti potensi dampaknya terhadap inflasi melalui kenaikan biaya transportasi, logistik, dan tekanan pada daya beli kelas menengah.
Berita LPS Terbaru
- Forex
- Crypto