ESDM siapkan pengadaan kompor listrik untuk rumah tangga berdaya di bawah 900 VA

ESDM siapkan pengadaan kompor listrik untuk rumah tangga berdaya di bawah 900 VA
Kompor listrik untuk 900 VA

Pemerintah kembali mengalokasikan anggaran untuk pengadaan kompor listrik guna mendorong konversi konsumsi energi rumah tangga dari LPG ke listrik. Skema awalnya menyasar pelanggan listrik 900 VA ke bawah agar penggunaan kompor listrik dapat menjangkau masyarakat di desa dengan kapasitas daya terbatas.

Sorotan

  • Kementerian ESDM menyiapkan pengadaan kompor listrik khusus rumah tangga dengan daya listrik 900 VA ke bawah, fokus peluncuran awal di desa.
  • Indonesia saat ini mengimpor sekitar 80 persen kebutuhan LPG nasional, sehingga program konversi kompor listrik diharapkan mengurangi ketergantungan energi impor.
  • Subsidi LPG mencapai lebih dari Rp80 triliun per tahun, dan pemerintah menilai diversifikasi energi rumah tangga penting untuk ketahanan energi serta pengelolaan keuangan negara.

Rencana pengadaan dan sasaran awal program

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral kembali menyiapkan pengadaan kompor listrik sebagai bagian dari upaya konversi penggunaan gas LPG di tingkat rumah tangga.

Menteri ESDM Bahlil mengatakan kompor listrik generasi terbaru kini lebih ramah untuk rumah tangga dengan daya listrik terbatas, termasuk pelanggan 900 VA ke bawah. Ia menyatakan tahap awal program difokuskan pada model kompor listrik yang dapat digunakan oleh warga di daerah dan desa dengan kapasitas listrik rendah.

Bahlil menyampaikan hal itu saat ditemui di Kompleks DPR RI, Jakarta, pada Senin, 15 Juni 2026. Menurut dia, penyesuaian spesifikasi kompor menjadi faktor penting agar program konversi dapat diterapkan lebih luas pada kelompok pelanggan dengan daya kecil.

Dampak terhadap impor energi dan beban subsidi

Kebijakan ini dilatarbelakangi tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG, yang disebut mencapai sekitar 80 persen dari kebutuhan nasional. Kondisi itu terus menekan devisa negara karena kebutuhan energi rumah tangga masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Selain tekanan terhadap devisa, pemerintah juga masih menanggung subsidi LPG dalam nilai besar. Bahlil menyebut subsidi LPG saat ini mencapai lebih dari Rp80 triliun per tahun, sehingga diversifikasi sumber energi rumah tangga dipandang menjadi langkah penting bagi ketahanan energi nasional dan pengelolaan keuangan negara.

Jika kondisi itu terus berlangsung tanpa diversifikasi, menurut Bahlil, tantangan bagi ketahanan energi dan fiskal akan semakin besar. Program kompor listrik untuk pelanggan berdaya rendah karena itu menjadi salah satu instrumen yang sedang disiapkan pemerintah untuk menekan ketergantungan pada LPG impor.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang usulan anggaran program kompor listrik dan konversi motor listrik pada 2027, kami mengulas rencana Kementerian ESDM menyiapkan dana Rp1,45 triliun untuk mendorong elektrifikasi di sektor transportasi dan rumah tangga. Program tersebut diposisikan untuk menekan konsumsi BBM, mengurangi kebutuhan LPG, serta menahan laju impor energi sebagai bagian dari penguatan ketahanan energi nasional.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.