BSI tingkatkan pembiayaan produktif SME menjadi Rp 25,69 triliun pada April 2026

BSI tingkatkan pembiayaan produktif SME menjadi Rp 25,69 triliun pada April 2026
BSI dorong pembiayaan SME

Di tengah permintaan pembiayaan sektor riil yang tetap berjalan, PT Bank Syariah Indonesia Tbk mencatat pertumbuhan pembiayaan produktif pada segmen usaha kecil dan menengah hingga April 2026. Kenaikan ini ditopang sektor-sektor kebutuhan harian masyarakat, sementara kualitas pembiayaan bank juga menunjukkan perbaikan.

Sorotan

  • Pembiayaan segmen SME BSI naik 13,67% yoy menjadi Rp 25,69 triliun per April 2026 didorong sektor pertanian, perdagangan, dan jasa pendidikan.
  • Rasio non performing financing BSI turun ke 1,80% dari 1,88%, meningkatkan ruang ekspansi pembiayaan sambil menjaga risiko pada segmen UMKM.
  • Transformasi digital lewat sistem BEWIZE by BSI dan program pendampingan UMKM memperkuat transparansi, kapasitas, serta daya saing usaha binaan.

Pertumbuhan pembiayaan dan fokus sektor usaha

KONTAN Indonesia melaporkan, pembiayaan segmen SME BSI tumbuh 13,67% secara tahunan menjadi Rp 25,69 triliun pada posisi April 2026. Pertumbuhan itu terutama datang dari sektor pertanian dan perkebunan, perdagangan besar dan eceran, jasa pendidikan, serta sektor lain yang menopang aktivitas sehari-hari masyarakat.

Direktur Retail Banking BSI Kemas Erwan Husainy dalam siaran pers Rabu, 17 Juni 2026, mengatakan perseroan siap mendorong segmen kecil dan menengah sejalan dengan komitmen BSI untuk berkontribusi pada perekonomian nasional, terutama pada sektor pro rakyat yang memperluas lapangan kerja. Menurutnya, pelaku usaha kecil dan menengah menjadi salah satu sasaran utama karena memiliki potensi besar bila dibina dan memperoleh akses pembiayaan yang tepat.

BSI juga menyatakan tetap optimistis segmen UMKM masih mampu tumbuh solid di tengah kondisi yang dinamis. Ekspansi pembiayaan disebut perlu disertai prinsip kehati-hatian agar penyaluran tetap tepat sasaran, berkelanjutan, dan mendukung usaha yang sudah mapan bertahan lebih kuat.

Digitalisasi layanan dan dampak pada kualitas pembiayaan

Kualitas pembiayaan BSI terjaga dengan rasio non performing financing sebesar 1,80%, membaik dari posisi sebelumnya 1,88%. Perbaikan ini memberi ruang bagi bank untuk terus memperbesar pembiayaan produktif sambil menjaga profil risiko pada segmen UMKM.

Untuk mendukung pertumbuhan itu, BSI mempercepat transformasi digital bagi nasabah SME, termasuk melalui cash management system terintegrasi BEWIZE by BSI untuk memudahkan pengelolaan usaha. Perseroan juga memperkuat program UMKM naik kelas lewat pendampingan usaha, pelatihan, business matching, layanan BSI UMKM Center, serta pendampingan sertifikasi halal bagi UMKM binaan.

Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas usaha dan transparansi pencatatan keuangan, sekaligus memperkuat daya saing UMKM di pasar domestik maupun global. Bagi sektor perbankan syariah, pertumbuhan pembiayaan produktif ini menunjukkan fokus ekspansi tetap berada pada pembiayaan sektor riil yang terkait langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, kami mencatat BRI telah menyalurkan Rp 84,36 triliun hingga akhir Mei 2026 atau 46,87% dari kuota tahunan Rp 180 triliun. Mayoritas KUR tersebut diarahkan ke sektor produktif (67,18%), dengan pertanian menjadi penyerap terbesar, sejalan dengan upaya memperkuat ekonomi daerah, inklusi keuangan UMKM, dan ketahanan pangan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.