Krom Bank fokus jaga likuiditas setelah BI Rate naik ke 5,50%

Krom Bank fokus jaga likuiditas setelah BI Rate naik ke 5,50%
Krom Bank jaga likuiditas

Kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin ke level 5,50% mendorong bank digital menyesuaikan strategi pendanaan dan pengelolaan risiko. PT Krom Bank Indonesia Tbk menilai langkah Bank Indonesia ini membantu menjaga keseimbangan pasar keuangan sekaligus menahan inflasi.

Sorotan

  • Krom Bank memperkuat likuiditas dan menghimpun dana murah (CASA) setelah kenaikan BI Rate ke 5,50%, sambil mempertahankan suku bunga deposito saat ini.
  • Perseroan memprioritaskan efisiensi biaya dana agar tidak perlu agresif menaikkan bunga kredit, dengan terus melakukan benchmarking terhadap kondisi pasar.
  • Krom Bank menjaga kualitas aset dan margin dengan penerapan manajemen risiko ketat serta penyaluran kredit prudent, mengantisipasi tekanan margin bunga bersih akibat kenaikan BI Rate.

Strategi dana dan likuiditas Krom Bank

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Presiden Direktur Krom Bank Anton Hermawan mengatakan perseroan menyiapkan langkah antisipatif untuk menghadapi dampak kenaikan suku bunga acuan, terutama dengan memperkuat manajemen risiko terhadap potensi kenaikan biaya dana.

Perseroan memfokuskan upaya pada penguatan likuiditas dan penghimpunan dana murah atau CASA agar biaya dana tetap stabil tanpa harus menaikkan bunga kredit secara agresif. Krom Bank juga menyatakan tetap mempertahankan tingkat suku bunga deposito yang berlaku saat ini sebagai bagian dari strategi pengelolaan dana yang prudent, sambil terus melakukan benchmarking terhadap kondisi pasar dan pergerakan industri.

Dampak pada margin dan kualitas aset

Dari sisi profitabilitas, Krom Bank masih mengamati dan menganalisis lebih lanjut dampak kenaikan BI Rate terhadap kinerja perseroan. Di tengah kondisi tersebut, bank terus memperkuat penghimpunan dana murah melalui ekosistem digital yang dimiliki.

Krom Bank juga melakukan sejumlah penyesuaian untuk menjaga kualitas aset, dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang ketat dalam penyaluran kredit guna mengendalikan risiko kredit bermasalah atau NPL. Menurut Anton, kenaikan BI Rate berpotensi menekan margin bunga bersih perbankan, sehingga perseroan mengedepankan efisiensi biaya dana untuk menjaga margin tetap stabil dan suku bunga kredit tetap kompetitif.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang dampak kenaikan BI Rate 5,5% terhadap strategi penghimpunan dana perbankan, kami membahas bagaimana persaingan dana pihak ketiga mendorong bank menimbang penyesuaian bunga simpanan sambil menjaga basis nasabah eksisting. Kami juga menyoroti bahwa dominasi deposito dalam struktur dana dapat membuat bank lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga, sehingga pengelolaan likuiditas dan aset-liabilitas yang prudent menjadi kunci untuk menahan kenaikan cost of fund.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.