Bank-bank Indonesia siapkan penyesuaian rencana bisnis di tengah pertumbuhan kredit yang moderat
Menjelang akhir kuartal II 2026, perbankan Indonesia mulai menyiapkan penyesuaian rencana bisnis seiring laju kinerja yang masih tumbuh positif namun belum melaju cepat. Hingga April 2026, kredit industri tumbuh 9,98% secara tahunan, dana pihak ketiga naik 11,4%, sementara likuiditas dan permodalan tetap terjaga menurut data OJK.
Sorotan
- CIMB Niaga menargetkan pertumbuhan kredit di bawah 5% untuk 2026 dengan proyeksi margin bunga bersih masih tertekan dan penyesuaian rencana bisnis terbatas.
- Per April 2026, kredit BCA tumbuh 4,85% yoy menjadi Rp969,09 triliun, dengan target tahunan pertumbuhan kredit tetap optimistis di kisaran 8-10%.
- OJK menilai revisi RBB hampir pasti terjadi pada Juli 2026, didukung stabilisasi rupiah, perbaikan pasar saham, dan penguatan sektor UMKM sebagai katalis positif.
Penyesuaian target dan asumsi jelang batas revisi
KONTAN Indonesia melaporkan, potensi penyesuaian rencana bisnis bank tetap terbuka menjelang batas penyerahan revisi RBB pada akhir Juni 2026, meski arahnya tidak seragam di seluruh industri.Ekonom Binus University Doddy Ariefianto menilai revisi RBB di bank-bank besar, khususnya Himbara, lebih cenderung berupa penyesuaian asumsi ketimbang pemangkasan besar. Menurut dia, ada empat faktor utama yang menjadi pertimbangan bank, yakni pertumbuhan permintaan kredit, biaya dana, kualitas aset, dan kapasitas modal. Dalam kondisi saat ini, bank dinilai lebih mungkin mengubah komposisi portofolio, penetapan harga, dan fokus sektor, sambil bersikap lebih defensif pada kredit berisiko tinggi dan lebih selektif pada segmen bermargin tipis.
Dari sisi industri, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan tidak akan ada banyak revisi dalam RBB perseroan karena target pertumbuhan sejak awal sudah dipasang relatif konservatif. CIMB Niaga menargetkan pertumbuhan kredit moderat di bawah 5%, sementara proyeksi margin bunga bersih masih tertekan. Sekretaris Perusahaan merangkap Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah juga menyebut ada beberapa penyesuaian tahun ini, namun tidak terlalu signifikan, dengan pertumbuhan kredit yang cenderung lebih landai mengikuti dinamika suku bunga, kondisi likuiditas, serta perkembangan ekonomi global dan domestik.
Berbeda dengan itu, BCA menyatakan masih optimistis target awal tahun tetap tercapai. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan perseroan membidik pertumbuhan kredit 8% hingga 10%, setelah hingga April 2026 kredit BCA tumbuh 4,85% secara tahunan menjadi Rp969,09 triliun. Perseroan menyatakan akan terus meninjau perkembangan katalis dan mendorong penyaluran kredit berkualitas dengan disiplin manajemen risiko.
Dukungan regulator dan implikasi bagi industri
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan potensi revisi RBB masih terbuka, namun hasil akhirnya baru terlihat pada Juli 2026 setelah prudential meeting. Menurut dia, revisi secara umum hampir pasti terjadi, tetapi belum bisa disimpulkan apakah bank akan memangkas target atau justru menaikkannya.OJK melihat masih ada sejumlah katalis positif yang dapat menopang kinerja perbankan, termasuk nilai tukar rupiah yang mulai stabil, perbaikan pasar saham, dan meredanya ketegangan geopolitik Amerika Serikat-Iran yang menekan harga minyak. Di sisi lain, dampak kenaikan suku bunga acuan terhadap biaya dana dan minat penarikan kredit dinilai belum tercermin dalam waktu dekat pada kinerja bank.
Regulator juga terus mendorong penguatan UMKM untuk menopang pertumbuhan kredit. Arah ini menunjukkan penyesuaian RBB lebih berpotensi menjadi langkah kalibrasi strategi bisnis, bukan sinyal pelemahan menyeluruh, saat bank menyeimbangkan kehati-hatian dengan peluang pemulihan kinerja pada paruh kedua tahun ini.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pemulihan kredit multiguna, kami menyoroti bahwa permintaan pembiayaan konsumtif mulai membaik, tetapi ekspansinya masih moderat karena tekanan biaya hidup dan level suku bunga yang relatif tinggi. Kami juga membahas bagaimana bank-bank seperti BCA dan CIMB Niaga tetap selektif menyalurkan kredit, dengan penguatan credit scoring, pemantauan portofolio, dan pengendalian NPL untuk menjaga kualitas aset.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto