Asuransi Asei nilai perlambatan ekspor-impor menekan pertumbuhan premi
Ketidakpastian ekonomi mendorong pelaku usaha menunda ekspansi, mengurangi volume perdagangan, dan lebih berhati-hati mengambil pembiayaan. Kondisi ini dinilai PT Asuransi Asei Indonesia dapat menahan pertumbuhan premi baru, terutama pada lini yang terkait perdagangan, pembiayaan, dan investasi.
Sorotan
- PT Asuransi Asei Indonesia menghadapi tekanan pertumbuhan premi akibat perlambatan ekspor-impor dan investasi, terutama pada lini asuransi kredit dan marine cargo.
- Strategi Asei mencakup penguatan bisnis inti asuransi kredit dan perdagangan, peningkatan kualitas underwriting, digitalisasi proses bisnis, serta diversifikasi portofolio untuk mengurangi ketergantungan sektor tertentu.
- Premi asuransi umum dan reasuransi nasional tercatat Rp53,43 triliun per April 2026, turun 4,32% secara tahunan menurut Otoritas Jasa Keuangan.
Dampak perlambatan pada lini bisnis utama
Seperti dilaporkan Kontan, Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia Dody Dalimunthe mengatakan perlambatan aktivitas ekspor-impor dan investasi berpotensi memengaruhi pertumbuhan premi perseroan. Penilaian itu sejalan dengan fokus bisnis Asei pada asuransi keuangan, termasuk asuransi kredit, penjaminan, dan asuransi terkait perdagangan.Menurut dia, lini usaha yang paling sensitif terhadap perlambatan ekonomi meliputi asuransi kredit perdagangan dan kredit modal kerja, asuransi marine cargo, serta asuransi properti dan engineering yang berkaitan dengan proyek investasi. Sejumlah lini korporasi yang bergantung pada aktivitas perdagangan dan manufaktur juga menghadapi tekanan serupa.
Dody mengatakan dampak perlambatan terutama terlihat ketika pelaku usaha memilih menunda ekspansi bisnis, menurunkan volume perdagangan, atau lebih selektif dalam memanfaatkan fasilitas pembiayaan. Meski begitu, kebutuhan mitigasi risiko tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi.
Strategi pertumbuhan dan gambaran industri
Asei menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga pertumbuhan bisnis, antara lain memperkuat bisnis inti pada asuransi kredit, surety bond, dan asuransi perdagangan. Perusahaan juga memperluas penetrasi ke sektor ekspor, khususnya pada komoditas dan industri yang masih memiliki prospek positif di pasar internasional.Selain itu, Asei meningkatkan kualitas underwriting agar pertumbuhan premi tetap diimbangi kualitas risiko yang sehat. Perseroan juga memperkuat kerja sama dengan perbankan, lembaga pembiayaan, dan institusi pemerintah, memanfaatkan digitalisasi proses bisnis untuk efisiensi operasional dan perluasan akses pasar, serta melanjutkan diversifikasi portofolio agar tidak terlalu bergantung pada satu sektor ekonomi tertentu.
Di tingkat industri, Otoritas Jasa Keuangan mencatat premi asuransi umum dan reasuransi mencapai Rp53,43 triliun per April 2026, turun 4,32% secara tahunan. Data itu memberi gambaran bahwa tekanan pada aktivitas perdagangan dan pembiayaan ikut membayangi kinerja premi di sektor asuransi umum.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kontraksi premi asuransi umum dan reasuransi hingga April 2026, kami mencatat pendapatan premi industri turun 4,32% secara tahunan menjadi Rp53,43 triliun di tengah perlambatan aktivitas ekonomi. Sejumlah lini seperti engineering, personal accident, marine cargo, aviation, liability, dan energy offshore tertekan, sementara properti, kesehatan, kredit, marine hull, dan kendaraan bermotor masih mencatat pertumbuhan terbatas. Kami juga menyoroti bahwa prospek 2026 cenderung moderat dan sangat bergantung pada pemulihan ekonomi, pembiayaan, serta realisasi proyek.
Berita OJK Terbaru
- Forex
- Crypto