Bank Ina siapkan peninjauan bunga simpanan setelah BI Rate naik ke 5,5%
Kenaikan BI Rate ke level 5,5% mendorong bank menyesuaikan strategi penghimpunan dana di tengah persaingan likuiditas yang lebih ketat. PT Bank Ina Perdana Tbk menyatakan sedang mengkaji ulang bunga simpanan agar daya tarik produk tetap terjaga dan dana nasabah tidak berpindah ke bank lain atau instrumen berimbal hasil lebih tinggi.
Sorotan
- Bank Ina akan menaikkan bunga simpanan setelah BI Rate naik ke 5,5%, namun besaran kenaikan masih menunggu perkembangan industri perbankan.
- Per April 2026, dana pihak ketiga Bank Ina tumbuh 40% year-on-year menjadi Rp27,79 triliun, dengan 53,62% masih berupa deposito berbiaya tinggi.
- Penyesuaian bunga simpanan berpotensi menekan margin Bank Ina jika biaya dana naik melebihi pertumbuhan kredit Rp15,07 triliun dan laba bersih Rp60,52 miliar per April 2026.
Rencana penyesuaian bunga dan kondisi pendanaan
Seperti diberitakan KONTAN, Direktur Utama Bank Ina Henry Koenaifi mengatakan perseroan akan menaikkan bunga simpanan sejalan dengan kenaikan bunga acuan Bank Indonesia. Ia menilai langkah itu perlu dilakukan karena tanpa penyesuaian, sebagian dana nasabah berisiko keluar menuju bank lain atau instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.Namun, perseroan belum memastikan besaran kenaikan bunga simpanan yang akan diterapkan. Keputusan itu masih mempertimbangkan perkembangan industri perbankan dan intensitas persaingan dalam penghimpunan dana di pasar.
Berdasarkan laporan keuangan per April 2026, total dana pihak ketiga Bank Ina mencapai Rp27,79 triliun, naik 40% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Struktur dana pihak ketiga perseroan saat ini masih didominasi dana mahal berupa deposito, yang menyumbang 53,62% dari total penghimpunan dana.
Dampak terhadap margin dan intermediasi perbankan
Dominasi deposito dalam struktur pendanaan menunjukkan Bank Ina menghadapi tekanan biaya dana yang lebih besar ketika suku bunga acuan naik. Dalam kondisi seperti ini, penyesuaian bunga simpanan dapat menjaga daya saing penghimpunan dana, tetapi juga berpotensi menekan margin apabila kenaikan biaya dana tidak diimbangi pertumbuhan kredit dan imbal hasil aset yang memadai.Di sisi intermediasi, Bank Ina telah menyalurkan kredit sebesar Rp15,07 triliun hingga April 2026. Pada periode yang sama, perseroan membukukan laba bersih Rp60,52 miliar, sehingga arah kebijakan bunga simpanan ke depan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keseimbangan antara pertumbuhan dana, ekspansi kredit, dan profitabilitas bank.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang penyesuaian rencana bisnis bank (RBB) menjelang pertengahan 2026, kami membahas bagaimana bank-bank mulai mengkalibrasi target dan asumsi karena pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga belum melaju kencang. Kami juga menyoroti faktor yang diperhatikan pelaku industri—mulai dari biaya dana, kualitas aset, hingga permodalan—serta pandangan OJK bahwa revisi RBB pada Juli 2026 cenderung menjadi langkah penyeimbangan strategi, bukan sinyal pelemahan menyeluruh.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto