Ashutosh Sureka

Allo Bank andalkan transaksi digital untuk menjaga CASA di tengah persaingan likuiditas

Allo Bank andalkan transaksi digital untuk menjaga CASA di tengah persaingan likuiditas
Digital CASA Allo Bank

Di tengah tren suku bunga tinggi, PT Allo Bank Indonesia Tbk tetap optimistis mempertahankan pertumbuhan dana murah atau CASA melalui peningkatan aktivitas nasabah di kanal digital. Bank menilai tantangan utamanya bukan hanya menawarkan bunga yang kompetitif, tetapi menjadikan rekening Allo Bank sebagai rekening utama untuk transaksi harian.

Sorotan

  • Allo Bank menjaga rasio CASA tetap positif meskipun terjadi pergeseran dana nasabah ke deposito akibat meningkatnya sensitivitas terhadap imbal hasil.
  • Tekanan biaya dana akibat persaingan likuiditas diatasi Allo Bank dengan optimalisasi komposisi pendanaan, efisiensi likuiditas, dan pertumbuhan dana ritel.
  • Hingga akhir 2024, Allo Bank fokus mempertahankan bahkan meningkatkan CASA lewat ekosistem digital, bukan melalui perang bunga deposito.

Strategi digital untuk mempertahankan dana murah

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan rasio CASA perseroan masih menunjukkan tren positif meski nasabah kini lebih sensitif terhadap imbal hasil dan cenderung menempatkan sebagian dana pada deposito. Ia menyebut aktivitas transaksi nasabah di platform digital tetap menjadi penopang utama pertumbuhan dana murah perseroan.

Menurut Destya, CASA bagi Allo Bank bukan semata ditentukan oleh suku bunga, melainkan oleh tingkat keterlibatan nasabah. Semakin tinggi frekuensi transaksi dan semakin relevan layanan yang digunakan dalam keseharian, semakin besar kecenderungan dana tetap berada di rekening tabungan maupun giro.

Ia mengakui ada pergeseran sebagian dana nasabah ke deposito seiring tingkat bunga yang masih menarik. Namun, pergerakan itu dinilai masih dalam batas wajar dan belum mengganggu struktur pendanaan bank.

Tekanan biaya dana dan fokus kinerja hingga akhir tahun

Di tengah persaingan likuiditas yang semakin ketat, Allo Bank juga merasakan tekanan terhadap biaya dana. Meski begitu, perseroan menyatakan masih mampu mengelola cost of fund secara disiplin melalui kombinasi pertumbuhan dana ritel, optimalisasi komposisi pendanaan, dan pengelolaan likuiditas yang lebih efisien.

Destya menambahkan lingkungan suku bunga tinggi memang berpotensi menekan margin bunga bersih atau net interest margin. Namun, ia menegaskan profitabilitas bank tidak hanya ditentukan oleh NIM, karena kualitas aset, pertumbuhan kredit yang sehat, efisiensi operasional, dan peningkatan pendapatan berbasis komisi juga berperan dalam menjaga kinerja keuangan.

Hingga akhir tahun, Allo Bank tetap optimistis rasio CASA dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan secara bertahap. Untuk itu, bank memilih tidak bertumpu pada perang bunga deposito dan lebih fokus memperkuat ekosistem digital melalui perluasan penggunaan layanan pembayaran digital, QRIS, transfer, pembayaran tagihan, serta fitur lain yang meningkatkan frekuensi interaksi nasabah dengan aplikasi.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan saham BBCA, kami membahas bahwa Bank Central Asia tetap dinilai kuat berkat basis pendanaan murah yang stabil, likuiditas yang solid, serta kontribusi pendapatan berbasis komisi. Kami juga mencatat rasio CASA BBCA yang sangat tinggi membantu bank menjaga fleksibilitas biaya dana dan membuka ruang ekspansi kredit, meski lingkungan suku bunga tinggi berpotensi menekan NIM.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.