BPR Danamas perkuat pembiayaan UMKM lewat inovasi dan digitalisasi layanan
Di tengah persaingan industri BPR yang semakin ketat dan perubahan perilaku nasabah, BPR Danamas terus memperluas akses permodalan bagi pelaku UMKM melalui pengembangan layanan yang lebih mudah dijangkau. Langkah ini mencakup percepatan proses pembiayaan, peningkatan fleksibilitas produk kredit, serta perluasan jangkauan layanan ke sektor usaha produktif di berbagai wilayah.
Sorotan
- Aset BPR Danamas per September 2025 naik menjadi Rp26,07 miliar dari Rp17,5 miliar tahun sebelumnya, dengan outstanding kredit Rp14,9 miliar.
- BPR Danamas masuk Top 100 BPR 2026 kategori aset Rp5 miliar–Rp35 miliar dan memperkuat digitalisasi serta tata kelola untuk daya saing UMKM.
- Total aset industri BPR dan BPRS per Maret 2026 mencapai Rp236,69 triliun, tumbuh 3,70%, dengan rasio kecukupan modal agregat sebesar 27,20%.
Strategi transformasi dan capaian perseroan
KONTAN melaporkan, BPR Danamas menjalankan transformasi berkelanjutan yang mencakup digitalisasi produk, penguatan manajemen risiko, serta peningkatan infrastruktur teknologi dan kapasitas sumber daya manusia. Direktur Utama BPR Danamas Lisnur mengatakan transformasi itu menjadi fondasi utama perusahaan, sementara tantangan digitalisasi dan penguatan tata kelola pada era disruptif tetap menjadi fokus untuk menjaga stabilitas usaha.Perseroan juga menilai modernisasi sistem core banking semakin mendesak di tengah ketidakpastian ekonomi dan kompetisi teknologi. Sejalan dengan langkah tersebut, BPR Danamas masuk dalam jajaran Top 100 BPR 2026 versi The Finance untuk kategori BPR beraset di atas Rp5 miliar hingga di bawah Rp35 miliar.
Per September 2025, aset BPR Danamas tercatat Rp26,07 miliar, naik dari Rp17,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, outstanding kredit mencapai Rp14,9 miliar. Direktur Kepatuhan BPR Danamas Imam Mulasri mengatakan penghargaan itu menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat dan mendukung pengembangan UMKM melalui layanan digital yang lebih mudah diakses.
Pertumbuhan industri BPR dan dukungan regulator
Di tingkat industri, Otoritas Jasa Keuangan, OJK, mencatat BPR dan BPR Syariah masih membukukan pertumbuhan positif di tengah tantangan ekonomi dan persaingan yang semakin ketat di sektor jasa keuangan. Hingga Maret 2026, total aset industri BPR dan BPRS mencapai Rp236,69 triliun, naik 3,70% secara tahunan, sementara penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 2,83% menjadi Rp176,96 triliun.Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga industri BPR dan BPRS meningkat 3,16% secara tahunan menjadi Rp165,49 triliun. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan dinamika ekonomi global dan regional serta perkembangan teknologi keuangan menjadi tantangan yang harus dihadapi industri BPR dan BPRS.
OJK telah menerbitkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri BPR dan BPRS 2024-2027 sebagai acuan bagi pelaku industri untuk memperkuat daya tahan dan daya saing usaha. Dari sisi permodalan, ketahanan industri juga masih terjaga, dengan rasio kecukupan modal agregat BPR dan BPRS sebesar 27,20%, jauh di atas ketentuan minimum regulator.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang penguatan manajemen risiko berbasis data di industri keuangan, kami membahas bagaimana bank dan asuransi memperketat mitigasi risiko untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah volatilitas pasar dan tekanan global. Kami juga menekankan pentingnya sistem pemantauan risiko yang lebih cepat dan terukur, termasuk pemanfaatan insight data untuk mendukung keputusan strategis dan ketahanan operasional.
- Forex
- Crypto